2016 [Re]Start

Berapa banyak dari kalian yang agenda akhir tahunnya adalah merefleksi hal-hal yang telah terjadi sepanjang tahun dan membuat daftar resolusi tahun depan?

Bagi saya sendiri, membuat daftar yang ingin dan harus dilakukan serta diwujudkan merupakan hal wajib di setiap penghujung tahun. Mengingat apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang belum, dan impian-impian mana saja yang sudah harus masuk ke dalam daftar ‘darurat’. Bahkan, tidak perlu menunggu penghujung tahun, saya adalah orang yang tergila-gila dengan daftar. Mulai dari daftar tagihan yang harus dibayar, daftar “calon” pemasukan yang akan memenuhi isi rekening, daftar apa saja yang harus dilakukan hari ini dan besok, daftar belanja, daftar tempat-tempat yang sudah dan berencana akan dikunjungi, daftar mimpi-mimpi – mulai dari yang terkesan mudah hingga yang terlihat mustahil -, bahkan daftar rencana-rencana bisnis yang ingin dilakukan. Kalau kata beberapa teman, saya memiliki kecenderungan OCD dalam merencanakan sesuatu.

Sedikit melirik ke 2015 dan karena kecintaan saya dalam membuat daftar, saya mencoba menuliskan apa saja hal-hal yang telah terjadi di 2015 dan meninggalkan cukup kesan untuk diingat dan dimasukkan ke dalam daftar.

  1. Menyambut tahun 2015 di Pulau Rottnest, Australia Barat, bersama beberapa teman dari beberapa negara yang juga menjalani program Visa Bekera dan Berlibur (Working and Holiday Visa), melakukan pesta kecil-kecilan yang bahkan berakhir sebelum tengah malam, karena kami semua harus bangun pagi keesokan harinya untuk bekerja. Dikejutkan oleh surat elektronik yang masuk dan mengabarkan bahwa saya terpilih untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya dalam proses pemilihan Pengajar Muda Angkatan X Indonesia Mengajar. Awal yang menyenangkan untuk menghadapi 2015.
  2. Minggu kedua Januari 2015, saya pun akhirnya pulang ke Indonesia, ke Makassar, dalam rangka untuk menghadiri pernikahan salah satu sahabat dan juga untuk tes tahapan kedua Indonesia Mengajar. Kurang lebih 12 hari di Makassar dan Jakarta, lalu kembali ke Australia dan memutuskan untuk mencoba peruntungan di lokasi lain, tepatnya di Darwin.
  3. Sebulan di Darwin, menambah kenalan dan teman baru juga pengalaman baru, sebulan lamanya. Tepat di minggu akhir Februari, saya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, setelah beberapa hari melalui proses pertimbangan yang alot, pilihan antara tetap di Australia untuk berburu dollar atau pulang ke Indonesia karena terpilih sebagai Calon Pengajar Muda Angkatan X.
  4. Kurang lebih sebulan menghabiskan waktu bebas, termasuk pemeriksaan medis dalam rangka proses menjadi Calon Pengajar Muda, melakukan perjalanan bersama beberapa sahabat dan teman baru, menelusuri Jawa Barat bersama-sama selama hampir seminggu lamanya, lalu menikmati beberapa minggu bersama orang-orang terkasih di Makassar. Hampir setiap hari saya habiskan di luar, mengajak teman lama bertemu, reuni kecil-kecilan dengan teman SD, mengajak adik-adik jalan-jalan, betul-betul menikmati waktu yang sempit bersama mereka sebelum akhirnya harus ke Jakarta untuk dikarantina selama 2 bulan lamanya.
  5. 20 April 2015, hari pertama kami – 75 Calon Pengajar Muda kala itu – dipertemukan di satu tempat, Galuh II No. 4 Jakarta Selatan, sebagai seremoni penyambutan sekaligus pelepasan kami untuk mengikuti pelatihan intensif selama 2 bulan lamanya.
  6. Dua bulan memang bisa dibilang cukup singkat untuk saya dan 74 orang lainnya saling mengenal. Namun, 2 bulan pula nyatanya dicukupkan bagi kami untuk pada akhirnya menjadi sebuah keluarga baru. Sama seperti keluarga pada umumnya, ada cekcok – ketidakcocokan – kebahagiaan – kesenangan – dan hal-hal lainnya yang kami alami dan rasakan bersama. Tidur di barak yang sama, bangun subuh sama-sama, ibadah sama-sama, olahraga sama-sama, makan sama-sama, mengerjakan tugas sama-sama, belajar sama-sama, mencuci sama-sama, bahkan mandi dan buang air pun juga ada yang sama-sama.
  7. 14 Juni 2015, kami akhirnya disebar, menuju 10 kabupaten yang berbeda dengan tim masing-masing. Saya dan 7 teman lainnya, karena penempatan cukup jauh, kami pun berangkat malam sebelumnya demi mengejar pesawat dini hari ke Kabupaten Fak-fak, Papua Barat. Yap, Papua Barat, akhirnya kaki ini diberi kesempatan menginjakkan kaki di tanah bagian timur Indonesia.
  8. Bab baru dalam buku kehidupan saya baru saja dimulai tepat ketika kaki ini turun dari pesawat kecil yang mengantarkan kami ke Fakfak. Haru – takjub – bahagia – dan banyak perasaan lainnya yang bercampur aduk begitu tahu kalau kami sudah di Fakfak, sudah di Papua Barat.
  9. Katika tulisan ini dibuat, genaplah saya dan teman-teman menjalani hari ke 215 di Fakfak, termasuk setengahnya dijalani di kampung penempatan masing-masing. Segala suka dan duka serta proses belajar dilalui setiap harinya. Adaptasi demi adaptasi, proses demi proses, percobaan demi percobaan, kami jalani. Mulai dari kemampuan hidup tanpa sinyal dan listrik, kemampuan beradaptasi dalam keterbatasan air dan makanan, kemampuan menyembuhkan segala sakit, fisik dan hati, belajar lebih sabar, lebih ikhlas, lebih tangguh, lebih berani. Dari awal mulai menghitung hari hingga mulai merasa waktu semakin sempit.
  10. Melepas 2015 dan menyambut 2016 bersama orang-orang kesayangan dan teman-teman baru di tempat yang luar biasa.

 

2015 menjadi tahun yang padat dan bagitu banyak hal yang patut untuk disyukuri. Lalu bagaimana dengan 2016, apa saja daftar yang harus dituntaskan di tahun kabisat ini?

 

Secara detail, kali ini saya tidak membuat daftar spesifik. Hanya beberapa hal-hal skala besar yang masuk ke dalam catatan, selebihnya saya mencoba melonggarkan sedikit aturan hidup yang selama ini saya anut. Jika dulu saya tidak sepakat pada istilah “ikut ke mana air mengalir” sebab hanya ikan mati saja yang ikut ke mana air mengalir. Namun, tahun ini saya mencoba lebih lunak pada diri sendiri. Fokus dan target tahun ini tidak banyak, hanya :

  1. Beribadah lebih rajin dan tepat waktu.
  2. Bersyukur dan memberi lebih sering.
  3. Melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, perkara di luar atau di dalam negeri biarkan si Pemberi Kehidupan yang menentukan, yang jelas di mana ada pintu di situ saya mengetuk.
  4. Menuntaskan amanah sebagai Pengajar Muda dengan melakukan hal-hal yang lebih baik dan bermanfaat.
  5. Fokus pada beberapa proyek baru yang dimulai di awal tahun.
  6. Belajar lebih mencintai diri sendiri dan lebih menikmati hidup.
  7. Mencoba menyelesaikan penulisan satu buku, AMIIN !!!!

 

Memulai 2016 dengan melakukan sedikit hal yang tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan, hibernasi dari beberapa platform sosial media serta keluar dari 90% grup whatsapp tanpa alassan yang spesifik. Sejauh ini, hidup lebih enteng dan lebih bahagia (mungkin).

Menamai judul tulisan ini dengan [Re]Start sebab sama seperti web/blog ini, semua seperti direstart (memulai ulang). Blog ini sempat tertimpa masalah, servernya down dan sempat dihack. Berkat bantuan beberapa teman, akhirnya bisa diselamatkan, meski databasenya tak terselamatkan. Namun, berkat kebaikan web.archive.org, postingan bisa diarsipkan kembali, meski secara manual. Sedih juga awalnya, namun akhirnya saya mencoba melihat sisi positifinya, yakni mungkin ini pertanda bahwa saya harus lebih perhatian pada blog ini dan lebih rajin menulis.

Untuk 2016, apapun yang kamu siapkan untuk 300an hari ke depan, saya (inshaaAllah) siap.

Bismillah…

 

IMG_1980
2016, bring it on, me ready ! [images credit : me]

 

notes :

featured image credit : google.com

6 Comment

  1. Semoga 2016 makin banyak membawa berkah dan kebahagiaan 🙂

    1. Amiiiin, buat kamu juga ya, kak cumleb :*

  2. Rajin-rajin update blognya ya Tiwi. Cerita-cerita juga tentang pengalaman mengajarnya 😉

    1. InshaaAllah ya, kak
      Semoga bisa semakin rajin update 🙂

  3. any yuliany says: Reply

    Tiwii.. kok daftar nikah nda masuk daftarmu siiih.. lebih banyak berkah dan bahagianya loh.. hihi *ngompor*

    1. Nikah masuk kok 🙂 sisa nunggu calonnya nih, hihihi

Leave a Reply