Mantra-Mantra Kehidupan

Kamis, 18 February 2016. Pagi ke-4 yang didera hujan tanpa henti di Kota Fakfak. February seakan ikut senduh di pertengahan bulan ini. Hampir setiap dini hari hujan datang bertamu dan pulang jika matahari siang telah muncul.

Pagi ini harusnya saya dan beberapa teman bergegas ke bandara, untuk melepas kepergian teman-teman dokter magang yang telah menyelesaikan satu tahun amanah mengabdi di Fakfak, untuk pulang ke ibukota. Sayangnya, hujan seakan ingin menghalangi niat kami, ia lantas datang bersamaan dengan kumandang adzan subuh, berjamaah dengan teman-temannya, seolah mengepung kami untuk tetap di tempat. Kami pun menyerah, bukan karena kami mudah putus asa, namun Fakfak bukanlah kota pagi hari, di mana dapat dengan mudahnya menemukan kendaraan umum di jam 6 pagi. Akhirnya sembari mengemas beberapa kenang-kenangan kecil untuk teman-teman dokter magang, berdoa hujan reda dan segera kembali ke langit, beberapa dari kami mencoba menghubungi dan mencari tahu kabar teman-teman dokter magang. Mereka ternyata sudah di bandara, akhirnya diputuskanlah hanya dua dari kami berlima yang akan ke bandara, setidaknya ada yang mewakili, selain itu memang hanya ada 1 motor saat itu. Saya pun bergegas menyelesaikan pengemasan hadiah kecil kami, beberapa lembar foto yang diedit dan dicetak dalam format kartu pos, hasil begadang semalam.

unnamed-16
kartu pos dan penerimanya telah sampai dengan selamat di Sorong beberapa jam setelah tulisan ini dibuat

Kartu pos adalah simbol kenang-kenangan yang personal menurut saya. Kamu menuliskan kepada siapa yang ingin kamu tujukan pesannya, kamu menulis pesan, lalu menggoreskan tanda tangan atau hanya sekedar menulis nama kecil. Ide kartu pos ini muncul semalam ketika saya terpikir apa ya yang bagus untuk djiadikan kenang-kenangan teman-teman dokter magang. Akhirnya setelah dibantu mengumpulkan foto dari teman-teman, di mana ada kami dan para teman-teman dokter magang, saya pun mengeditnya sedemikian rupa agar menyerupai kartu pos. Proses editan dan cetak-mencetak yang sejatinya berlangsung cepat ini justru baru selesai di pukul 5 pagi. Penyebab utamanya apalagi selain saya yang menunda pekerjaan. Hal ini dikarenakan adanya panggilan konferensi skype oleh para gadis-gadis kesayangan yang tersebar di GMT+4, GMT+7, dan GMT+8.

Meski memakan proses yang lama dan mengharuskan saya begadang lalu mengatur waktu untuk bangun tidur beberapa kali dan bangun subuh lebih cepat untuk menyelesaikan pekerjaan, ada beberapa hal yang unik selama proses pengerjaan kartu pos kenang-kenangan ini. Saya seolah diingatkan akan beberapa hal, beberapa mantra yang saya yakini dan saya pakai dalam menjalani hidup. Tak jarang mantra ini berhasil atau setidaknya menurut saya berhasil membuat hidup saya menjadi lebih baik.

Mantra” (/ˈmæntrəˈmɑːnˈmʌn/ (Sanskrit: मंत्र);[2]) means a sacred utterance, numinous sound, or a syllable, word, phonemes, or group of words believed by practioners to have psychological and spiritual power in Sanskrit.[3][4] A mantra may or may not have syntactic structure or literal meaning; the spiritual value of a mantra comes when it is audible, visible, or present in thought.[3][5] – Wikipedia

  1. Jika kamu tak mau diperlakukan seperti itu, maka jangan pernah melakukan itu terhadap orang lain.

Ketika saya sedang menggunting lembar demi lembar kartu pos yang telah selesai tercetak, di pikiran saya terlintas untuk menggunting ala kadarnya saja, tak perlulah rapi, yang penting jadi, apalagi sudah mau jam 6 pagi ini, takut tidak kekejar karena pesawat mereka jam 7 pagi.

Namun, sebuah suara lain di dalam kepala mengingatkan saya. Kamu mau diberi hadiah yang tidak rapi? Yang dibuat asal-asalan?. Seakan menjadi hantaman besar dan saya tidak mau di kemudian hari saya mendapatkan hadiah yang asal-asalan, maka saya pun melakukan proses pengguntingan dengan baik dan serapi mungkin. Ini mungkin adalah hal-hal kecil dan sederhana, namun saya percaya bisa berdampak panjang dalam menjalani kehidupan, terlebih jika telah menjadi kebiasaan.

Mantra ini saya pelajari ketika membantu Bapak mengurusi usahanya. Awalnya karena merasa terpaksa untuk bekerja, saya selalu mengandalkan prinsip “yang penting pekerjaan selesai”, yang mengakibatkan saya hampir setiap hari mendapatkan ceramah karena pekerjaan semuanya salah atau kacau balau, walaupun selesai tepat waktu. Tidak pernah bosan Bapak menasehati saya dan mengatakan “selalu kembalikan ke diri kamu, kalau kamu tidak mau mendapatkan hasil yang seperti ini, atau kamu tidak mau diperlakukan seperti ini, misalnya kamu order barang dan hasilnya jelek karena dikerja asal-asalan walaupun tepat waktu, maka jangan pernah lakukan itu terhadap orderan orang lain”. Perlahan tapi pasti saya mulai mengubah kebiasaan. Selalu mengingatkan diri dan bertanya “apakah saya mau orang lain melakukan hal yang sama ke saya” ketika sekelebat niat “jahat” muncul. Mantra inilah yang kemudian membuat saya percaya pada mantra kedua.

  1. Karma itu nyata adanya di dunia.

Sebutlah saya terlalu religius atau apapun itu namanya, tapi saya percaya pada yang namanya karma di dunia. Saya percaya apapun yang saya lakukan, akan kembali pada saya, baik itu buruk atau tidak. Apa yang saya lakukan terhadap si A akan dilakukan kembali oleh si B terhadap saya, atau si C, D, E atau Z.

Mantra inilah yang selalu menjaga saya untuk berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata. Mulut saya memang tajam dan kadang susah dikontrol, tapi begitu saya tersadar sebisa mungkin saya meminta maaf, baik secara langsung ataupun melalui perantara Si Maha Pemberi Maaf. Terlebih setelah begitu banyak peran yang harus saya jalani selama penugasan di Fakfak ini, begitu banyak dinamika yang terjadi, memaksa saya untuk semakin mengasah diri menggunakan mantra ini, meski hingga saat ini saya masih belum cukup profesional, tapi saya tidak akan pernah berhenti untuk belajar menggunakan mantra ini.

  1. Selama kamu baik, percayalah orang-orang akan baik padamu juga.

Jika ditanya apa yang saya dapatkan selama melakukan perjalanan. Maka, selain pengalaman, saya mendapatkan sebuah kepercayaan baru yang kemudian saya jadikan mantra kehidupan hingga saat ini. Setiap perjalanan yang saya lakukan mempertemukan saya pada begitu banyak orang baik, begitu banyak. Hal ini yang kemudian membuat saya percaya bahwa berbuat baik adalah rantai perbuatan yang memberikan efek domino. Maka, berusahalah untuk berbuat hal baik, sekecil apapun, kepada siapapun, sebab kamu tidak akan pernah tahu dari mana arah datangnya kebaikan untukmu kelak.

Di perjalanan, saya menerima tumpangan tempat tinggal dari orang-orang asing, maka untuk membalasanya, saya membuka rumah bagi para pejalan yang membutuhkan tempat bernaung satu atau beberapa malam ketika mereka tiba di Makassar. Meski, saya tak ada di Makassar, saya menerima banyak ucapan terima kasih dari mereka yang menghabiskan satu atau beberapa harinya di rumah di Makassar, bersama Mamak dan adik-adik saya. Kata mereka, Mamak selalu berusaha untuk menolong mereka, memberikan mereka makanan tak henti-henti, yang kemudian saya yakini sebagai alasan dibalik kebaikan orang-orang Arguni, kampung tempat saya bertugas, yang tiada henti-hentinya ke saya.

Benarlah adanya jika berbuat sesuatu jangan mengharap imbalan, namun saya juga percaya bahwa setiap perbuatan pasti ada imbalannya. Maka, untuk imbalan yang baik, berbuat baiklah.

  1. Lakukanlah sesuatu secara total.

Penyesalan selalu datang terakhir, benar. Tak hanya datang belakangan, penyesalan juga selalu diiringi dengan begitu banyak perumpamaan, begitu banyak pengandaian. Ah, andai saya berbuat ini, saya pasti tidak akan mendapatkan seperti ini. Ah, andai saya menyelesaikannya lebih cepat, saya bisa jadi yang terpilih.

Maka, saya mencoba mempelajari formula mantra apa yang tepat untuk menghindari penyesalan ini. Lalu, saya menemukan mantra ini, melakukan segala hal secara total, penuh totalitas.

Dulu, ketika tahun pertama kuliah, saya mendaftar beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika, namun sayangnya saya gagal, karena saya mengirimkan berkas yang tidak lengkap, saya meniadakan sertifikat TOEFL yang harusnya menjadi syarat utama, karena kala itu saya merasa saya tidak punya cukup waktu untuk melakukan tes. Betapa menyesalnya saya ketika saya mendengar kabar bahwa salah satu teman saya terpilih, dan yang paling membuat saya menyesal adalah, nilai TOEFL dia bahkan di bawah dari yang disyaratkan. Sejak saat itu, saya berniat dan berjanji bahwa hal semacam ini tidak akan pernah lagi terjadi. Untuk selanjutnya, saya harus total. Sejak saat itu, saya mulai merencanakan ulang hidup saya. Saya tak mau ada jeda dalam fase hidup saya. Semua harus terencana, mimpi-mimpi yang saya tuliskan semua harus dirinci jalan untuk mencapainya. Meski orang lain melihat saya sebagai sosok yang serius dalam menjalani hidup, saya tak keberatan, sebab saya tak mau penyesalan yang sama kembali menyambangi hidup saya.

Namun, bukan berarti setelah itu hidup saya berjalan benar-benar sesuai rencana dan penyesalan tak pernah mengetuk pintu hidup saya lagi. Penyesalan adalah tamu yang tak akan pernah berhenti berkunjung, ini hanya persoalan bagaimana kita menjamunya. Saya memilih untuk menyambutnya dengan tangan terbuka, belajar dari setiap kunjungannya, agar kelak selalu ada pelajaran-pelajaran baru yang dibawanya ketika berkunjung.

Mantra inilah yang saat ini tengah saya sering gunakan. Terbatasnya fasilitas tak menghambat saya untuk tetap menjalankan rencana hidup dan kehidupan secara total. Mulai dari tugas-tugas selama di penempatan dan mulai menyicil sedikit demi sedikit rencana masa depan. Apapun itu, saya berusaha meletakkan seluruh effort yang saya punya, bahkan jika lebih maka saya lebihkan, sehingga setidaknya jika kelak ada hal di luar rencana yang terjadi, penyesalan tidak akan merundung saya seperti duka yang mendalam, sebab saya tahu bahwa saya sudah melakukan segenap yang saya bisa. Dan lagi, saya percaya, keringat tidak akan mengkhianati pemiliknya serta Tuhan tak pernah tidur.

  1. Jangan menunda-nunda pekerjaan.

Ah, ini mantra yang paling susah untuk saya pelajari hingga saat ini. Kita semua tahu betapa bergunanya mantra ini, namun seperti kebanyakan orang hal yang paling kita tahu terkadang menjadi hal yang paling sering kita remehkan.

Sudahlah, saya tak perlu membahas panjang lebar tentang mantra ini, sebab saya pun masih berusaha keras untuk melakukannya lewat berbagai metode, seperti membuat list-to-do hingga menyetel berbagai peringatan di telepon genggam cerdas.

 

Kamu punya mantra lainnya yang sering kamu gunakan dalam hidup dan memudahkan kamu menjalani kehidupan, bagi dong, mungkin kita bisa saling bertukar mantra, karena berbagi adalah salah satu mantra kehidupan yang baik 😀

 

 

Fakfak, 06.30 WIT

Di Kamis yang senduh

Leave a Reply