Scholarship Hunting : Chevening – Part 1

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan lamanya, saya kembali mensujudkan diri di sepertiga malam. Bukan tanpa alasan, saya sedang dalam misi menyogok Tuhan.
Hari ini saya akan memulai perjalanan yang akan menentukan nasib saya selepas menjadi Pengajar Muda, proses wawancara beasiswa Chevening. Saya akan menempuh perjalanan panjang dari Fakfak ke ibukota, Jakarta, dengan berpindah moda transportasi beberapa kali dan transit di beberapa kota besar.

Ini akan menjadi perjalanan pertama saya meninggalkan tanah Papua setelah lebih 8 bulan di tempatkan di sini. Berbekal izin cuti dari kantor Indonesia Mengajar, Kepala Sekolah dan restu segenap masyarakat kampung, khususnya orangtua piara, saya memantapkan diri untuk melangkah. Harusnya ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, bayangkan setelah tidak menyentuh bioskop selama 10 bulan ( terhitung sejak pelatihan ), akhirnya saya punya kesempatan untuk merasakan yang namanya nonton di bioskop lagi, atau mencicipi greentea frappucino Starbucks, atau dragon roll Sushi Tei. Sayangnya semua itu tidak cukup untuk membuat kegelisahan saya hilang.
Sudah hampir 3 minggu ini saya dilanda kesusahan tidur, memikirkan masa depan, khususnya beasiswa yang saya daftari, lebih khusus lagi Chevening. Semua bermula ketika pagi hari selepas jogging saya menerima surel yang menyatakan saya masuk ke dalam daftar yang lolos ke tahapan wawancara. Sejak saat itu, ritme hidup saya tak lagi sama.
Fokus saya terbagi, tentu saja, apalagi mengingat banyak kegiatan di Kabupaten dan juga tugas mengajar di kampung. Saya bahkan sampai stress dan frustasi (dapat di baca di sini), di tengah semua tugas di penempatan dan keriuhan menyelesaikan aplikasi – aplikasi beasiswa serta menyiapkan diri untuk wawancara Chevening.
Setelah banyak pertimbangan, akhirnya saya mengajukan cuti ke kantor, yang alhamdulillah disetujui. Sembari menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum saya meninggalkan kabupaten, saya mulai mencari sumber-sumber dan cerita mengenai proses wawancara Chevening. Ada banyak yang bertebaran tapi tidak begitu detail, beberapa alumni yang saya tanyai-pun tidak cukup membantu, hanya menjawab sekenanya saja dan singkat. Tapi, alhamdulillah, saya justru menemukan banyak teman baru yang bukan orang Indonesia, yang juga telah mendapatkan surel panggilan wawancara. Bersama-sama melalui bantuan media sosial, kami saling bertukar info, mulai dari negara asal, jurusan yang diminati, hingga cerita dan tips untuk menjadi Chevening awardee. Saya satu-satunya orang Indonesia saat ini. Sudah saya coba cari lewat banyak platform media sosial, dengan harapan bisa berbagi kegalauan, namun tak saya temukan satupun kandidat Indonesia yang juga akan wawancara dalam waktu dekat ini.
Seperti malam ini, saya kembali mencari namun tak ketemu (lagi). Karena tak bisa tidur, saya kemudian terpikir mengenai tes IELTS, saya iseng mencari dan menemukan jadwal tes di 12 Maret 2016, 2 hari setelah waktu wawancara, saya secara impulsif memutuskan untuk mendaftar. Biaya 2.700.000 adalah investasi kesekian yang saya keluarkan untuk mimpi besar ini, demi melanjutkan studi ke luar negeri.
Setelah proses pendaftaran selesai dan merasa lelah mencari informasi lewat layar ponsel (yang katanya) cerdas, saya putuskan untuk shalat malam. Shalat malam pertama saya setelah berbulan-bulan lamanya terlalu malas dan angkuh untuk bersujud di sepertiga malam ini.
Entah dari mana dan kenapa, di rakaat terakhir saya menangis, hingga salam terakhir. Saya baru menyadari bahwa ketakutan yang saya pendam ternyata sebegitu besarnya. Ya, saya takut. Bagaimana kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan pewawancara, atau yang lebih buruk lagi saya tidak mengerti satupun kata-kata mereka. Bagaimana kalau hasil tes saya tidak menggenapi 7 atau 6.5. Bagaimana kalau saya tidak mendapatkan LoA dari ketiga kampus yang saya daftari. Bagaimana kalau Chevening bukan rejeki saya lantas saya sudah investasi begitu banyak (dari tiket pesawat yang naudzubillah mahalnya hingga tes IELTS impulsif yang biayanya bisa beli tiket ke Jepang PP), Bagaimana kalau… Bagaimana kalau…
Saya tidak pernah tidak sepercaya diri ini dalam hidup, terlebih ketika mengetahui ada lebih dari 40.000 aplikasi Chevening yang masuk tahun ini dan saya harus “bersaing” dengan penduduk dunia, tidak hanya Indonesia. Saya takut!
Namun, selepas shalat dan ketika menulis ini di ponsel, saya seperti tersadar, seperti ditampar oleh sebuah suara di dalam kepala saya. Sebegitu rendahnya saya memandang Tuhan, hingga ketakutan membuat saya lupa kalau ada Dia yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana. Jikalaupun Chevening bukan rejeki saya kelak, Dia pasti sudah menyiapkan yang jauh lebih pantas dan lebih baik. Jikalaupun saya sudah investasi banyak untuk beasiswa-beasiswa yang saya daftari (termasuk beasiswa ke China yang sudah 80% di tangan) dan memang bukan di situ rejekinya, pasti akan selalu ada hikmahnya, sekarang atau nanti.
Dan lagi, saya yang selalu menyemangati orang lain dan berkata bahwa “keringatmu tidak akan berkhianat”, kenapa jadi begitu pesimis dan penakut saat ini.
If God helps you, none can overcome you; and if He forsakes you, who is there after Him that can help you?  And in God (Alone) let believers put their trust 
Jika Allâh menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allâh membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allâh sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allâh saja orang-orang mu’min bertawakkal
Al-Imran : 160
9 hari menuju hari wawancara Chevening. Apapun hasilnya kelak, semoga saya sudah memaksimalkan setiap usaha yang saya mampu, agar kelak tidak ada penyesalan sedikitpun.
Bismillah
Fakfak, 29 Februari 2016
04: 51 AM 

14 Comment

  1. lies says: Reply

    Bismilah..
    yang terbaik saja menurut Alloh ya untuk mba Tiwi..
    tidak ada yang sia sia atas semua ikhtiar dan doa yang sudah dilakukan..
    sukses selalu dimanapun itu.. amin

    1. Iya, kak Lies
      Amiin ya Rabb, doa yg sama buat kamu juga ya, kak

      1. Gloria Gracia says: Reply

        Hai pratiwi! I have just found out your blog and somehow most of the stories written described well my feeling now, how you put your persistance in reaching your dream from getting the LoA to the chevening preparation.

        Right now, i am preparing for the five essays as the requirement to register and find it difficult to start…
        If you do not mind to share the sample of your essay as a guidance of writing..

        Thanks a lot..

        1. Hi Gloria,

          if you look further in my latest article, you will find a link that will lead you to all documents that I submited for some scholarship application

          Good luck

  2. putri says: Reply

    jiaoyou tiwi, pasti bisa, i trust you

    1. Makasih yak, mohon doanyaaa

  3. […] yang telah saya ceritakan di sini, bahwa tidak mudah menemukan sesama orang Indonesia yang juga akan wawancara Chevening untuk saling […]

  4. […] yang saya lewati setelahnya dengan tidak tenang, menanti info, khawatir berlebihan ( lengkapnya di sini ). Tapi, Tuhan dan Semesta memang baik, tak ada perjuangan yang tak diapresiasiNya.  Saya […]

  5. sabrina says: Reply

    thankyou for sharing ya mba…
    mba, saya boleh di share essay yang ada di form kah?

    boleh dikirim ke sitidarasabrina@gmail.com

    trimakasih ya mba 🙂

    1. Coba dicek di postingan paling akhir, ada kok lampirannya via link. Goodluck ya

  6. nurul says: Reply

    kak, mau tanya, beasiswa chevening itu apa harus kerja dulu setelah lulus kuliah ? soalnya sejak semester 1 itu saya kerja sambil kuliah, bukan kerja paruh waktu, kerja normal 6-8jam per hari, apakah itu tidak masuk perhitungan syarat beasiswa?

    1. Masuk hitungan kok, Nurul

      Good Luck

  7. caroline says: Reply

    Selamat siang Mbak Pratiwi, terima kasih untuk berbagi pengalamannya yang cukup detail dan sangat inspiratif. Saya sudah submit aplikasi Chevening saya dan tinggal menunggu apakah saya bisa sampai ke tahap berikutnya. Saya ijin sebelumnya untuk download ya Mbak.

    1. halo Caroline,

      Good luck ya

Leave a Reply