“Ada Tukang Potong-Potong Kepala !!!”

 

[image from google]

Senin, 27 Juli 2015

Setelah menghimbau anak-anak untuk datang sekitar pukul 3 sore, mereka ternyata datang 30 menit lebih awal, tepat di saat indomie rebus + telur + nasi saya siap untuk disantap. “Eh, Ibu makan tra papa?”

“Iyo, tra papa Ibu, Beta su makan, Ibu makan sudah” kata salah seorang anak dari total empat orang yang datang, 3 perempuan, 1 lelaki.

“Eh, sambil Ibu makan, kamong bantu catat dulu eh, anak-anak kelas 3 sampe 6 pu nama-nama, nanti katong jalan ke mereka pu rumah, oke?”

“Oke, Ibu”

Adalah Mega, Lili, Diva dan Aldi yang kali ini menjadi asisten pribadi. Bersama-sama kami membuat daftar nama anak-anak kelas 3 hingga 6 yang selanjutnya akan kami kunjungi rumahnya dan bertanya satu-satu mengenai kesediaannya ikut lomba menulis. Setelah makan, masak air, dan menuntaskan daftar nama-nama berikut memberi tanda rumah-rumah siapa saja yang terdekat untuk dikunjungi dahulu, kami lalu berjalan bersama-sama. Mengunjungi tiap rumah anak-anak yang berada dalam daftar, memberikan mereka selembar kertas untuk menuliskan biodata dan menceritakan apa yang mereka alami hari ini, sengaja saya buat untuk mengetes kemampuan menulis dan bercerita mereka, ketimbang hanya bertanya siapa yang berminat siapa yang tidak, cara ini ternyata cukup efektif, dari 34 daftar nama, hanya 4 anak yang menyatakan tidak bersedia ikut.

“Ibu, ibu sebentar tidur deng siapa?”

“Sendiri, kenapa? Kau mau bermalam deng Ibu kah? Mau menginap deng Ibu?”

“Iyo, iyo, mau Ibu…” semua asisten pribadi berlomba-lomba mengangguk.

“Oke, nanti abis magrib, jam 7 begitu, kamong semua datang ke Ibu pu rumah eh, ini yang belum dapat kertas, kamong kasih eh, nanti sisa lapor deng Ibu, siapa yang tra mau deng siapa yang mau” ada beberapa anak yang belum saya temui secara langsung dan hari sudah mulai sore, saya pun meminta tolong dan mengamanahkan beberapa anak untuk membantu menyebarkan informasi dan kertas untuk mereka menulis.

Belum juga adzan magrib berkumandang, mereka sudah datang “Ibu, yang tra ikut itu Rum, Alan, Hajar deng Rasuna” lapor Mega.

“Iyo, tra papa, jangan dipaksa sudah. Nanti kalian kembali lae abis magrib eh, pulang mandi dulu baru sembayang magrib baru ke sini, oke?”

“Oke, Ibu”

Sekitar setengah 7 malam, yang awalnya saya kira hanya empat anak yang berminat untuk menginap kemudian membengkak menjadi 10 anak. 10 ANAK !!!!. Datanglah gerombolan-gerombolan ini, beserta alat shalat dan selimut serta kertas dan pena. “Ibu, katong tulis di sini eh sambil Ibu nilai sudah”

The first thing I remember in this kind of situation was a movie named Teacher’s Diary, film Thailand yang bercerita tentang kisah guru yang harus ditempatkan di Sekolah Terapung, jauh dari mana-mana, yang harus tinggal bersama dengan murid-muridnya, memasak bersama dan makan bersama. Here I am now, memasak 3 indomie goreng + 3 telur dadar + 1 wadah sirup + semangkuk nasi, untuk dibagi ber-10. “Ibu, ibu, kalau ada yang ketuk pintu, jangan buka eh” entah itu suara siapa. “kenapa?” tanyaku dari arah dapur, tengah sibuk mendadar telur.

“Ada tukang potong-potong kepala” jawab entah siapa.

“Eh sembarang, trada itu, tipu-tipu saja, kamong su liat kah?” hap, dadar dibalik.

“Iyo, Ibu, beta su liat” entah siapa lagi yang menjawab.

“Ah trada itu, tra usah takut, ada ibu di sini. Eh su adzan isya ini, kamong pigi shalat dulu” setelah rumah kosong lagi, saya pun sibuk membagi makanan ke dalam 11 piring ( with me of course ).

Sudah jam delapan lewat, tak ada satupun penampakan anak-anak tadi, padahal mesjid sudah tidak bersuara. Gimana kalau mereka ga balik lagi? Makanan gimana dong, ga mungkin dimakan sendiri juga.

Tiba-tiba lewatlah 3 orang mama-mama. “Mama…” sapaku.

“Assalamu alaikum, Ibu” mereka berjalan mendekat dan naik ke atas. Oh memang mau ke sini.

“Waalaikum salam, Mama, masuk sini,” mereka pun masuk ke dalam. Ada yang mengambil tempat duduk di kursi, ada yang duduk di lantai, dan yang paling muda yang membawa anak kecil berdiri saja.

“Anak-anak ke mesjid kah?” tanya Mama yang duduk di lantai.

“Iyo, mama, beta suruh mereka sembayang dulu, baru kerja tugas lae”

“Ibu, ini mau kasih info, ada cari orang” I don’t get it.

“Eh? Cari siapa, Mama?” tanyaku polos.

“Polisi su cari orang hari ini” still don’t get it.

“Eh, orang apa, Mama?”

“Itue, potong-potong” Mama yang duduk di sofa memperagakan gaya gorok leher. Damn, that urban legend is true? Wait, village legend is true? DAMN DAMN…

“Eh iyokah?”

“Iyo, tadi ada kejadian di Kokas, ada yang masuk rumah sakit hari ini, dia loncat dari mobil, dia pu leher su berdarah, polisi lagi kejar itu orang”

“Dia pu kampung di Sekar, dari Kokas ke Sekar, bisa lewat sini, makanya Ibu tidur deng Nenek di bawah eh”

“Tra papa, Mama, ada anak-anak su bilang mau tidur di sini, nanti beta jaga eh, itu orang cari anak-anak saja kah?”

“Deng orang besar juga, Ibu” FU*K, DAMN… Astagfirullah.

“Nanti beta kunci semua pintu”

“Iyo, Ibu, kalau ada yang ketuk-ketuk jangan buka eh, anak-anak yang mau kencing juga jangan sendiri eh”

“Iyo, Mama, nanti semua beta temani, nanti beta bilang kalau mau kencing, kasih bangun beta sudah, nanti beta temani”

“Iyo, kalau ada orang aneh-aneh, Ibu bilang sudah eh” mereka mulai berdiri dan berjalan ke pintu. Dan saya masih shock kalau ternyata legenda ini ada benarnya.

“Nenek putih di sebelah juga sendiri eh?” tanya salah seorang Mama.

“Iyo, nanti kalau ada apa-apa, beta teriak saja eh, ada Om Mad juga di sebelah, nanti beta teriak sudah kalau ada apa-apa, oke, Mama?”

“Iyo, Ibu, hati-hati eh, Assalamu Alaikum”

“Waalaikum salam” tanpa ba-bi-bu, saya langsung mengecek semua pintu, jendela, terkunci rapat, tanpa perkecualian. Taiik… saya pikir itu cuman mitos.

Tak berapa lama setelah memastikan semua aman dan mencoba kalem, anak-anak berdatangan, “Assalamu alaikum, Ibu”

Listrik yang biasanya telah dipadamkan sejak pukul 12 malam, entah kenapa malam ini menyala lebih lama, hingga pukul 3 dini hari.

4 Comment

  1. Tiw, blognya gak bisa di follow lewat bloglovin atau feedly ya?

    1. Di subscribe aja, say 🙂

  2. Actually i felt gulity sudah ngakak baca ceritamu wi’. Tapi lucu.
    (btw benarji bahasa inggrisku? ;p)

    1. Felt guilty kenapa, Kak Silva?

Leave a Reply