Cerita Dari Inggris : Sekilas Cerita Dari Coventry

Tepat sebulan lalu saya masih berada di Makassar, tepatnya di Rumata Art Space, berbagi cerita tentang Beasiswa Chevening kepada pemuda-pemudi Makassar melalui kegiatan Akademi Berbagi. Beberapa hari setelahnya saya meninggalkan Makassar, bukan pertama kalinya, untuk pergi selama kurang lebih 1 tahun.

My supporters. Can't thank them enough.
My supporters. Can’t thank them enough.

Jika pada tahun 2014, saya pergi meninggalkan Makassar untuk merantau ke Australia selama hampir setahun, lalu di tahun 2015 saya kembali pulang sekejap untuk sekedar pamit dan pergi ke Papua Barat selama satu tahun untuk menjadi Pengajar Muda di pulau kecil bernama Arguni, kini di 2016 saya diberi kesempatan untuk kembali menimba ilmu di belahan benua lain, di Britania Raya, tepatnya di sebuah kota yang terletak 1 jam berkereta dari London.

Mampir ke London dulu untuk lihat Jam Gadang
Mampir ke London dulu untuk lihat Jam Gadang

Tempat saya kuliah bernama University of Warwick, salah satu universitas terbaik di Inggris, khususnya di bidang Ekonomi dan Manufaktur. Saya sendiri mengambil jurusan MSc di bidang Innovation and Entrepreneurship. Lantas bagaimana hidup saya selama 3 minggu pertama di Inggris?

Mahasiswa(i) Indonesia di University of Warwick. Tahun ini meningkat drastis.
Mahasiswa(i) Indonesia di University of Warwick. Tahun ini meningkat drastis. Hayo saya yang mana?

Jika sedikit sombong, ini bukan kali pertama saya tinggal di luar negeri dalam waktu lama. Selain traveling, saya pernah tinggal di Australia selama hampir 1 tahun, yang mana sangat membantu saya dalam beradaptasi terhadap budaya barat. Mulai dari makanan hingga tipikal orang-orangnya. Bisa dibilang saya tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan di sini. Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Alhamdulillah, meski jadwalnya super padat, dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam atau lebih (jika ada diskusi kelompok), dari Senin-Jumat, saya cukup menikmati, apalagi jurusan yang saya ambil adalah jurusan yang memang saya gemari. Saya bahkan mulai mendokumentasikan kegiatan saya melalui vlog saya.

Bisa ditonton di sini :

Vlog Pertama

Vlog Kedua

Vlog Ketiga

Vlog Keempat

 

Lantas apa yang menjadi tantangannya? Selain beberapa dosen yang kalau menjelaskan masih susah ditangkap, mengantuk di kelas, yang saat ini menurut saya cukup menantang adalah menulis paper yang bisa sampai beribu-ribu kata. Untuk paper pertama saja minimal 3.000 kata. Mungkin jika menulis saja bukanlah kendala besar, tapi menulis secara akademik adalah hal yang sangat baru untuk saya. Ketika jaman saya kuliah dulu, menulis paper bukanlah hal yang biasa dilakukan. Belum lagi cara mereferensi yang baik, sebab salah sedikit bisa berujung ke tuduhan plagiarism. Dan di sini, plagiarism adalah hal yang sama sekali tidak bisa ditoleransi.

Coffee, my new friend since day one
Coffee, my new friend since day one

Setahun ke depan mungkin akan sangat padat dan melelahkan, tapi mari mencoba menikmati semuanya, karena jika dulu saya sempat bilang kalau setiap mimpi punya haknya masing-masing untuk diperjuangkan, maka setiap mimpi yang menjadi nyata punya konsekuensi masing-masing untuk dipertanggungjawabkan.

 

 

 

8 Comment

  1. desi says: Reply

    Akhir tulisan, NOTED!

  2. vivin says: Reply

    mbak, sayavivin. saya
    mengirim email ke mbak terkait beasiswa chevening. semoga mbak berkenan untuk membalasnya, terimakasih mbak 🙂

    1. Hi, sudah dibalas ya emailnya

  3. lies says: Reply

    Aduh seneng nya.. alhamdulillah.. selamat ya..

  4. Selvi says: Reply

    halo.. salam kenal 🙂

    saya juga mendaftar untuk beasiswa Chevening 2017/2018. mau tanya mengenai LoA ya, mbak.

    1. sebaiknya kapan mulai mengurus LoA? apakah menunggu panggilan interview dari pihak Chevening atau mulai dari sekarang?
    2. apakah boleh mengurus LoA tanpa melampirkan hasil IELTS? karena saat ini saya masih persiapan untuk tes.
    3. kemudian untuk mendapatkan LoA dari University of Warwick, saya baca di web nya bagi yang taught course mesti bayar fee ya? apakah benar? kalo iya, berapa?

    terima kasih sudah berkenan menjawab 🙂
    Selvi

    1. Hi Selvi,

      maaf saya baru buka blog lagi

      semoga belum terlambat ya jawaban saya

      1. Saya urus LoA tepat setelah interview Chevening, tapi kalau mau lebih awal lebih baik lagi
      2. Bisa saja tanpa IELTS, tapi mungkin akan jadi conditional LoA
      3. Kemarin Warwick biayanya 50 pound, tapi kalau dia tahu kita Chevening biasanya bisa diminta refund, tapi coba email mereka aja buat lebih jelas

      Thanks and Good Luck

  5. Rasyid says: Reply

    Keren as always! 🙂

    Vlog-nya jg inspiratif (barusan nonton vlognya) 😀

    Mudah-mudahan Tiwi & semua tmn2 yg sdg ‘mempertanggungjawabkan impian yg sdh terwujud’ di Negeri Elizabeth dan Negeri2 yg lain, diberikan kekuatan & keikhlasan dlm menjalaninya. Aamiin. Do’akan kami yg saat ini jg sdg memperjuangkan hak setiap impian kami untuk diwujudkan satu-per-satu.

    Btw, blh di-share dong gmna cara Tiwi ngatur waktunya slama kuliah disana? Di tengah jadwal kul yg super padat, kok msh sempet2nya nge-vlog + nge-blog? Hahaha 😀

    Hmm… masalah tugas Paper, kdengarannya serem ya. Nanti (klo sempet) bisa di-share ya cth tugas2 kul dari Dosen disana (khususnya Paper di jurusan yg saat ini Tiwi ambil). Penasaran. hehe..

    Semangat terus ya!

    Rasyid

    1. Halo Rasyid,

      terima kasih ya

      sudah ada tuh Vlog baru, di sini :

      Selamat menonton

Leave a Reply