Ketika Badai (Belum) Pasti Berlalu

Masih ingat postingan ini? Masa-masa di akhir September yang kelam, di mana seolah-olah hari jadi berasa sangat panjang, hati yang hancur tak hanya sekali, dan beberapa malam yang dipenuhi tangis. Lalu September pergi, meninggalkan luka yang hingga saat ini belum pulih, namun perlahan membuat saya lebih kuat memasuki Oktober, bulan yang saya kira akan menjadi bulan yang baik karena begitu banyak rencana baik yang akan terealisasi.

Oktober, nyatanya memang menyambut saya dengan baik. Tawaran beberapa pekerjaan di sini sembari menunggu wisuda, agenda-agenda terkait Tenoon dan Padoepa di Indonesia, Bapak Mamak yang di bulan ini juga akan mengurus visa ke UK, serta beberapa rejeki tak terduga yang sudah sempat terlupakan. Hingga beberapa hari lalu badai kembali datang.

Hari itu, Jumat 20 Oktober 2017, saya mendapat jam kerja yang cukup singkat, hanya 7 jam, namun dipersingkat menjadi 6 jam, saya pulang lebih awal. Ketika baru beberapa menit melangkahkan kaki keluar dari Grand Central, saya mengecek Whatsapp, sebuah kabar dari salah satu orang yang paling saya sayangi di dunia ini. Isinya singkat “tolong telepon, Bapak lagi kena musibah”. Saya lalu menelpon untuk mencari tahu.

Berat menuliskan kisah ini, karena tiap kali mengingatnya, rasanya sakit sekali dan sulit untuk tidak menangis.

Percakapan singkat di telepon itu membuat saya kesulitan bernafas, mencoba mencernah berita yang saya terima. Saya mencoba untuk tetap tenang dan bergegas pulang ke rumah untuk menenangkan diri. Sayangnya saya tidak sekuat itu, saya menangis dalam perjalanan pulang, membayangkan apa yang dialami Bapak Mamak saya. Ingin rasanya saat itu juga pulang ke Indonesia dan memeluk mereka. Ingin rasanya saya mengutuk dan menyumpahi mati orang-orang yang melakukan itu ke orangtua saya, namun saya mencoba untuk percaya bahwa bukan hak saya untuk mendikte kematian seseorang.

Sesampainya di rumah, tangis saya pecah. Saya mencoba menghubungi adik-adik saya, membahas apa yang baru saja dialami orangtua kami. “Tolong hibur Bapak, nak” adalah kata-kata yang paling terngiang di percakapan kami, ketika Bapak juga menelpon Dilla, adik saya, dengan kata-kata yang sama. Malam itu saya mencoba menelpon Bapak lagi, setelah melakukan beberapa riset mengenai apa yang bisa beliau lakukan untuk masalah yang menimpa tersebut. Kami mencoba mencari berbagai cara. Lagi-lagi saya pikir saya cukup kuat untuk mencoba tegar dan menenangkan beliau, nyatanya tangis saya juga pecah di penghujung telepon. Malam itu, saya menangis berkali-kali, dan mungkin karena stress diserang oleh badai yang seolah-olah tak berhenti dan semakin besar, malam itu saya mengambil gunting dan memangkas pendek rambut saya, asal-asalan. Lalu kembali menangis, lalu tenang, lalu menangis lagi. Setengah logis saya sudah mulai di tahapan bahwa saya harus tetap tenang karena ini bisa menjadi gejala depresi. Saya bahkan mencoba mencari tahu indikasi depresi. Saya mencoba menjernihkan pikiran dengan mandi, namun saya kembali menangis, semua tiba-tiba. Setiap pikiran saya kosong, rasanya tiba-tiba sesak dan tahu-tahu saya kembali menangis, berkali-kali. Sampai kalimat ini ditulis pun entah saya sudah berurai air mata berapa kali. Mungkin akan terdengar berlebihan, tapi percayalah, kalau kalian di posisi yang sama, kalian juga bisa berujung depresi. Malam itu juga, saya langsung menonaktifkan Facebook dan Instagram, rasanya saya butuh tempat untuk mengisolasi diri sejenak. Malam itu, berat sekali rasanya bahkan untuk sekedar memejamkan mata. Kalau saja besok saya tidak bekerja pagi, maka mungkin saya tidak akan memaksakan tidur.

Untung saja keesokan harinya saya mendapat jam kerja yang cukup panjang, dari pagi hingga setengah sebelas malam. Hal ini membuat saya cukup terdistraksi dan tidak banyak memikirkan masalah tersebut. Namun, sesampainya di rumah, lagi-lagi saya menangis. Setiap kali saya blank meski hanya beberapa detik, tiba-tiba perasaan sedih menyerang dan berujung pada tangisan. Mungkin ini memang gejala awal depresi, tapi saya percaya saya jauh lebih kuat dari ini. Harus ada yang lebih kuat di keluarga untuk menopang yang lain. Tadi malam, saya mencoba mengumpulkan iman saya, mencoba untuk percaya bahwa ini ujian kami bersama, bahwa Allah tidak akan memberikan sesuatu yang tidak dapat kami pikul, bahwa semuanya akan ada solusinya, bahwa suatu saat semuanya akan jauh lebih baik, bahwa kami jauh lebih kuat daripada apa yang menimpa kami. Berkali-kali saya mencoba meyakinkan diri bahwa ada pertempuran yang lebih berat yang dialami oleh orang lain di luar sana dan saya tidak sendirian. Facebook masih saya nonaktifkan, Instagram sudah saya aktifkan kembali tapi mungkin tidak akan saya gunakan dalam waktu dekat ini.

“Allah does not burden a soul beyond that it can bear…” (Qur’an, 2:286).

Untuk kalian yang sedang diberi ujian hidup dan tidak punya siapapun untuk bisa berbagi, cobalah untuk percaya bahwa kalian kuat, lebih kuat daripada apa yang kalian kira. Meski seolah badai belum berlalu, percayalah suatu saat badai itu pasti dan akan berlalu. Cobalah mencari kesibukan yang bisa mengalihkan pikiran dan perhatian kalian. Menangislah, jangan ditahan, menangislah sebanyak-banyaknya jika itu bisa membuat kalian sedikit lebih lega. Tulisan ini berhasil saya tulis dengan diselingi oleh beberapa kali tangisan. Tulisan ini saya buat sebagai media “penyembuhan”, untuk merilis sedikit beban berat yang sedang diamanahkan untuk saya pikul.

Untuk saat ini, saya belum bisa cerita detail mengenai masalahnya, tapi suatu saat nanti pasti akan saya ceritakan. Hari ini juga Bapak dan Mamak pulang ke Makassar setelah beberapa hari di Jakarta dalam proses mengurus visa ke UK. Kami sudah lebih tenang dan mulai menyusun rencana untuk menghadapi apa yang sedang diujikan kepada kami. Doakan saja saya dan keluarga diberi kekuatan untuk melalui ini semua dan semoga ini menjadi pelajaran hidup yang kelak akan memberi berkah bagi kami, amin.

1 Comment

  1. Amin.. amin… Tabah ya, mbak. Semoga segera diberi jalan keluar utk mbak tiwi dan keluarga. ❤

Leave a Reply