Menyintas Jakarta: Malam ke-18

Awalnya ingin memberi judul “Surviving Jakarta: On Day 18”, seperti rencana membuat vlog dengan tema yang sama “Surviving Jakarta” yang kini masih sebatas wacana. Tapi karena di tulisan ini saya berupaya untuk menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka muncullah kata “menyintas”. Jika ada yang memiliki padanan kata Indonesia yang lebih tepat, boleh diinfokan ke saya.

Kurang dari satu bulan yang lalu, saya masih berjalan penuh rasa bahagia di tengah gemerlapnya kota yang katanya tak pernah tidur, menelusuri 5th Avenue hingga area yang tak pernah sepi, Times Square. Waktu berlalu begitu cepat, hanya seminggu saya habiskan di kota kelahiran, bersama orang-orang terkasih, ketika akhirnya saya pulang dari tanah rantau. Lalu, kembali beranjak pergi. Tak jauh, hanya Jakarta, hanya ke ibu kota, hanya dua jam penerbangan dari Makassar.

Saya mencintai kota besar, melihat setiap individu berjuang untuk peperangannya masing-masing. Begitupun saya. Ada beberapa alasan besar kenapa saya akhirnya pindah ke Jakarta, kota yang selama ini hanya menjadi tempat singgah sementara, sehari, dua hari, tak pernah lebih dari dua minggu.

Empat tahun pengalaman saya berpindah dari satu tempat ke tempat baru lainnya, dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negara ke negara lainnya, lantas tak membuat saya cukup berani untuk menghadapi Jakarta. Empat tahun terakhir hidup saya penuh rencana yang jelas, saya pindah ke Australia lalu beranjak ke Papua Barat dan akhirnya bersekolah di Inggris. Tapi, merantau ke Jakarta? Tidak pernah ada dalam daftar rencana.

Lantas apa yang membuat saya akhirnya berpindah ke kota ini? Kota yang udaranya saja seolah bermusuhan dengan hidung saya. Jakarta menawarkan saya, tepatnya menawarkan Tenoon, untuk menjalani program inkubasi usaha sosial selama enam bulan lamanya. Sebagai pendiri Tenoon, saya diwajibkan hadir di setiap sesi di bulan Januari – Juni (meski akhirnya saya berhasil meminta keringanan untuk tidak hadir di sesi Januari sebab masih menunggu wisuda di Inggris). Pikir saya kala itu, jika saya harus bolak balik Makassar-Jakarta untuk sekedar mengikuti sesi yang hanya beberapa hari dalam sebulan, mungkin akan lebih baik jika saya tinggal saja di Jakarta, setidaknya sampai bulan Juni. Saya bisa mencari pasar-pasar baru untuk Tenoon, ikut kegiatan-kegiatan menyenangkan dan bermanfaat yang masih sangat jarang di Makassar, dan berbagai pertimbangan lainnya.

Keputusan ini sudah saya matangkan sejak saya di Inggris, maka sesampainya di Jakarta, sebuah kamar kos berukuran 3×2.5 meter telah siap menyambut saya dengan sebuah lemari kecil, kasur tunggal, dan sebuah meja kayu di sudut kamar. Beruntung saya punya sahabat yang sudah seperti saudara sendiri, teman serumah selama di Inggris, yang mencarikan lokasi kos yang saya tempati sekarang, membelikan keperluan sederhana seperti bantal, guling, serta bed linen, sehingga saya tak perlu menghabiskan malam pertama di Jakarta tanpa bantal atau alas tidur.

Hampir setiap hari saya habiskan bertemu dengan kawan lama dan atau kawan baru di Jakarta. Mengikuti pelatihan ini, pelatihan itu, menghadiri acara A atau membantu kegiatan acara B. Menyenangkan memang, namun saya belum bisa menerima Jakarta apa adanya. Sebut saja saya tukang mengeluh, tapi kota ini membuat saya lupa bagaimana gojek online sehingga saya tak lagi nyaman untuk berjalan kaki ke mana-mana, kota ini membuat saya lebih memilih makan di luar setiap harinya ketimbang mengolah bahan mentah di atas kompor. Tapi, kota ini juga mengajarkan saya beberapa hal berarti. Tentang mereka yang berjuang, tentang para anak rantau lain yang akhirnya berkawan dengan Jakarta, tentang para penyintas Jakarta.

Lantas berapa lama saya akan mencoba menyintas Jakarta? Tergantung seberapa tangguh kota ini dapat membuat saya jatuh hati, di setiap harinya.

 

Kebon Kacang, 7 Maret 2018

23:31, ditulis karena sedang lelah melipat kemasan-kemasan Tenoon.

Leave a Reply