10 Cerita Tentang Menjadi 26

22 Maret 2018 lalu saya resmi berusia 26 tahun. Tidak ada selebrasi yang mewah atau perjalanan ke tempat baru seorang diri sebagaimana saya biasa lakukan seperti di tahun-tahun sebelumnya. Ucapan dan doa yang datang pun tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Tapi, saya tak lagi mau ambil pusing. Bahkan, saya sempat lupa kalau saya akan berulangtahun di tanggal 22 Maret kemarin.

Di tulisan kali ini, saya mencoba bercerita tentang 10 hal yang terjadi di hidup saya dalam rentang waktu menyambut usia 26.

  1. Memutuskan pindah ke Jakarta. Keputusan ini bukan hal yang mudah, seperti yang pernah saya tulis di sini. Ada banyak penyesuaian yang harus saya lakukan, meski sudah beberapa tahun terakhir ini saya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun, Jakarta punya tantangan tersendiri yang harus ditaklukan dengan cara-cara yang tidak biasa.
  2. Saya mencoba dunia kerja. Untuk mereka yang mengenal baik saya, pasti tahu betapa seringnya saya berkumandang bahwa saya tidak punya ketertarikan untuk bekerja di perusahaan orang lain. Menjadi wirausaha adalah tujuan hidup saya sejak lama. Saya merintis usaha serius saya pertama kali sejak di semester 2 kuliah S1. Berjalan 6 tahun dengan penghasilan yang membuat saya bisa memiliki 22 orang kru dan mengunjungi banyak tempat baru. Lalu saya mengambil gap year/career break dan pindah ke Australia selama hampir 1 tahun. Lanjut menjadi sukarelawan di Papua Barat selama 1 tahun sebelum akhirnya kembali bersekolah di Inggris dan kemudian merintis Tenoon. Saya kembali menjadi wirausaha, tapi kali ini tidak hanya fokus pada profit tapi juga berharap dapat memberikan dampak sosial yang lebih pada lingkungan/masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu dan dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk bergabung di salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia. Beberapa alasan utamanya adalah:
    • Saya ingin belajar bagaimana situasi bekerja di skala yang lebih besar, dengan harapan ketika Tenoon atau usaha lain saya di masa akan datang diberi amanah untuk tumbuh besar, saya sudah punya pengalaman bagaimana sebuah perusahaan berskala cukup besar dijalankan.
    • Jakarta adalah kota yang “membosankan”, tidak banyak pilihan hiburan alternatif selain ke pusat perbelanjaan/mall  yang mana pasti akan membuat kantong pengeluaran membengkak. Kalaupun ada pilihan alternatif seperti workshop/kelas khusus, festival, dll, pasti tetap butuh dana untuk menikmati. Tinggal di kosan pun bukan pilihan yang menyenangkan. Jadi, ketimbang menghabiskan uang di waktu luang, saya lebih baik menggunakan waktu-waktu luang itu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, dalam hal ini bekerja.
    • Tempat saya bekerja memiliki visi dan value yang sama dengan yang saya anut, to empower the SMEs in Indonesia. Saya bahkan hanya mendaftar di satu tempat ini saja, tidak pernah mencoba di tempat lain. Alhamdulillah, memang diberi rejeki di sini, tanpa ada halang rintang yang berarti. Saya merasa ilmu-ilmu dan pengalaman-pengalaman yang saya dapat selama ini sayang jika hanya berhenti di saya. Well, di Tenoon tentu saya dapat berbagi, tapi masih sangat terbatas karena Tenoon masih sangat kecil, masih sedikit orang yang bisa saya sentuh di sana. Maka dari itu, sebelum ilmu-ilmu ini memudar, maka saya putuskan untuk bergabung di tempat saya bekerja sekarang, yang memberikan saya kesempatan untuk bersentuhan dengan lebih banyak pelaku UKM di Indonesia.
    • Saya masih memiliki waktu untuk berkreasi dan membangun mimpi-mimpi saya. Saya masih diberi kebebasan untuk mengikuti workshop dan inkubasi untuk Tenoon, yang memang menjadi alasan utama saya pindah ke Jakarta.
  3. Saya belajar untuk kembali belajar. Sebisa mungkin saya menyisihkan anggaran setiap bulannya untuk mengikuti kelas alternatif. Beruntungnya (dan yang bikin aku suka iri) di Jakarta ini banyak banget kegiatan seperti kelar alternatif atau workshop yang bisa diikuti ketika akhir pekan atau hari-hari tertentu setiap bulannya. Dua bulan terakhir saya sudah ikut kelas belajar mewarnai kain dengan pewarna alami serta cara membuat aksesori dari batik/tenun. Gunanya? Selain untuk mengasah kreatifitas, juga biar ada ilmu baru yang kelak bisa saya bagi ke lebih banyak orang di Makassar/Indonesia timur yang masih belum punya kesempatan/akses yang sama.
  4. Saya mencoba untuk hidup lebih sederhana. Berpindah merupakan momen yang selalu paling ampuh untuk meninjau kembali barang-barang yang kita miliki. Ketika pulang dari UK kemarin, mau tidak mau saya harus membuang menyumbangkan barang-barang yang tidak dibutuhkan, dan memilih mana yang memang tidak bisa ditinggalkan. Begitupun ketika pindah ke Jakarta, karena jatah bagasi saya prioritaskan untuk produk Tenoon dalam rangka bazaar, saya akhirnya hanya membawa pakaian dan kebutuhan lainnya dalam 1 koper kecil dan 1 tas ransel. Hal ini membantu saya ketika akhirnya harus pindah kosan beberapa hari lalu.
  5. Saya belajar untuk merasa cukup. Dengan apa yang saya dapat, apa yang saya lakukan, dan apa yang saya impikan. Sulit memang, tapi saya belajar ketika saya merasa cukup, maka hidup justru selalu memberi lebih.
  6. Saya tak lagi segalau dulu perkara pasangan hidup. Saya memilih untuk menyerahkan semua kepada Pemilik Semesta, dan saya cukup melakukan apa yang bisa saya lakukan; berbenah dan membuka hati.
  7. Mencoba menaruh telur-telur di beberapa keranjang. Meski saat ini pemahaman saya soal finansial masih sedikit, saya mencoba untuk mulai mengatur keuangan lebih baik. Empat tahun terakhir saya memang rajin untuk mencatat pengeluaran dan sudah dua tahun terakhir saya juga berinvestasi di pasar modal. Tapi kali ini, saya mencoba untuk belajar lebih baik. Saya mencoba belajar untuk mengatur pos-pos pengeluaran lebih bijak, dan belajar investasi lebih baik. Untuk apa? Mungkin sekarang hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tapi mungkin kelak ketika sudah diberi amanah memiliki keluarga sendiri, saya jadi punya dasar untuk menjadi bendahara keluarga yang baik. Karena mau seberapa pun penghasilan kita, selama kita bisa mengatur dengan baik, inshaaAllah pasti cukup.
  8. Saya belajar untuk lebih menikmati ritme hidup. Sejak kuliah dan berwirausaha, saya selalu merasa hidup itu harus serba cepat. Harus selalu ada yang bisa dikerjakan di setiap menitnya. Saya selalu dihinggapi rasa bersalah jika punya waktu santai atau hari yang tidak produktif. Namun, beberapa minggu terakhir ini, saya mencoba untuk mencoba menikmati ritme hidup yang ada. Bukan berarti saya jadi lambat atau malas-malasan, tapi saya memilih untuk melakukan sesuatu sesuai dengan waktunya masing-masing. Saya tidak mau mengerjakan urusan kantor di luar jam kerja, saya tidak mau lagi begadang hingga tengah malam untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dikerjakan esok hari.

    “There is more to life than increasing its speed.” —Mohandas K. Gandhi

  9. Saya kembali mencoba untuk mencintai tubuh saya. Usia 26 meski tergolong muda, tapi tentu lebih dekat ke 30 ketimbang 20. Saya putuskan untuk kembali berolahraga, mengatur makanan yang masuk dan juga pola makan. Ini mungkin yang paling berat, karena saya selalu memilih makan untuk alternatif penghilang stress. Semoga bisa istiqomah.
  10. Saya belajar untuk lebih jujur pada diri saya sendiri. Berhenti untuk berusaha terlihat lebih kuat ketika saya sebenarnya tidak sekuat itu. Mencari bantuan dan meminta tolong ketika saya memang tidak bisa. Menerima segala kekhawatiran yang saya alami tanpa mencoba menyakiti diri sendiri dengan pikiran-pikiran negatif.

Saya tidak tahu kejutan apa yang menanti di usia 26 ini, dan sebagai orang yang sangat penuh rencana detail dalam hidup tentang apa yang akan saya lakukan setelah ini atau ke depannya, untuk pertama kalinya biarkan saya menjawab ” I dunno. We’ll see”.

 

 

PS: there is no picture in this post because I couldn’t upload any, always failed, have no idea why

Leave a Reply