Corona Yang Bikin Parno Berlebih

 Hari ini hari ke… wait… hmmm… udah lupa saking lamanya #dirumahaja gegara Corona. Mungkin tidak semua dari kita punya privilese untuk bekerja dari rumah, tapi gue cukup beruntung untuk bisa melakukan itu. Awalnya gue pikir pasti akan oke-oke aja secara gue tipikal yang lebih senang melakukan banyak hal di rumah dan somehow lebih produktif ketika bekerja di rumah. Awalnya memang menyenangkan, tidak harus bangun lebih pagi untuk bersiap-siap ke kantor, tidak perlu panas-panasan bersama mamang ojek online dan tidak perlu keluar duit buat beli makan siang karena bisa masak dan menyiapkan semuanya di rumah.

Sayangnya honeymoon phase tersebut hanya berlangsung selama dua minggu, setelah itu gue justru sering kena panic attack kecil-kecilan, karena Corona justru semakin parah dan sialnya Sulawesi Selatan adalah provinsi dengan kasus tertinggi di luar Jawa. Angka di Kota Makassar makin terus meningkat dan kekhawatiran gue juga tidak kalah tingginya. Tidak hanya itu, Corona juga membuat gue harus menutup beberapa bisnis yang gue punya dan hal itu semakin menambah beban pikiran gue yang selalu overthinking ini.

Ditambah lagi di tengah-tengah Corona itu gue harus menyiapkan pernikahan gue yang akhirnya diputuskan untuk dipercepat karena tidak ada kepastian kapan Corona akan mereda/berakhir. Alhasil mendekati akhir Maret dan dua minggu menjelang pernikahan gue sakit. Pertama kalinya gue merasakan sakit perut yang bikin kesulitan bernafas. Otomatis otak gue langsung overthinking dan berpikir apakah ini gejala Corona, apakah gue udah terpapar dengan virus ini?. Apalagi dua hari sebelumnya gue sempat ke luar kota untuk menghadiri acara nikahan teman kantor (saat itu belum ada PSBB dan pembatasan keluar masuk wilayah).

Karena saat itu gue masih parno untuk langsung ke rumah sakit gue pun akhirnya mencoba konsultasi via halodoc dengan memanfaatkan fitur konsultasi gratis selama 15 menit apabila terkait dengan Corona. Hasilnya gue diduga mengidap dyspepsia yang mengakibatkan nyeri dan sakit di area perut secara berlebih, khususnya di ulu hati. Lega banget pas tau itu bukan gejala Corona. Dokter pun memberikan resep yang bisa langsung gue order di aplikasi halodoc.

Gue pikir penyakit ini akan hilang dengan cepat, ternyata dua hari setelahnya kambuh lagi dan lebih parah. Gue yang masih parno ke rumah sakit/faskes untuk periksa kembali memutuskan untuk konsultasi via halodoc, namun beberapa jam setelah itu sakit dan nyeri di perut gue muncul lagi baru akhirnya setelah dipaksa oleh mama baru deh gue mau diboyong ke klinik punya om gue, setidaknya bukan ke rumah sakit besar yang potensi terpapar dengan orang sakit atau bahkan carrier Corona cukup tinggi.

Hasil periksa dokter di klinik kurang lebih sama dengan hasil diagnose dokter via halodoc, dyspepsia dan asam lambung yang pemicunya bukan hanya karena makanan tetapi juga pikiran. Gue sadar betul kalau gue cukup stress saat itu, bagaimana tidak bisnis tutup sementara, tidak ada kepastian kapan Corona berakhir, angka pasien di kota gue semakin meningkat, dan lagi harus menyiapkan pernikahan. Semua bikin pikiran gue kacau dan berakibat ke fisik dan mengarah ke psikosomatis.

Sejak saat itu gue mulai berusaha untuk mengurangi stress dan tidak terlalu overthinking. Selain itu gue juga mulai riset kecil-kecilan tentang ciri-ciri virus Corona, mulai dari penjelasan tentang virus itu sendiri, gejala, hingga pengobatannya. Setidaknya dengan mengetahui informasi ini gue bisa melakukan banyak tindakan pencegahan dan mengurangi rasa panik gue karena gue udah tau ciri-cirinya seperti apa dan apa yang harus gue lakukan agar tidak mudah terjangkit dengan virus ini.

Sisi positif dari riset ini dan juga situasi pandemi sekarang gue dan keluarga lebih higienis dengan sering-sering mencuci tangan dan menggunakan masker ketika keluar rumah. Kalau kata orang-orang sih kita sekarang ngebentuk habit-habit baru yang akan menjadi “the new normal”. Namun, terlepas dari hal positif yang kita lakukan sekarang demi mencegah Corona, gue berharap semua akan menjadi lebih baik dengan segera, karena sungguh gue yang introvert ini juga kangen untuk keluar rumah dan beraktivitas seperti sebelum Corona menyerang, amin!.

Well, at least I can tell my kids in the future how their mom and dad got married in the time of Corona

 

Leave a Reply