Dengan Sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu  

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana 

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

– Aku Ingin, Sapardi Djoko Damono –

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – 
Tepat 3 tahun silam,
kau berikan aku secarik kertas berisi puisi itu,
dengan sederhana…
Tidak dengan hiasan bunga ataupun pesta besar,
tapi hanya dengan sekotak kecil yang kau isi dengan cincin yang juga sederhana…
Masih ku ingat saat itu,
perkenalan sederhana yang bermula dari dunia tak nyata,
dengan sederhana kau menyapaku,
ku balas pula dengan sederhana,
Semua berawal dengan kesederhanaan,
Kau dengan sosok sederhana mu,
mengajak ku bertemu untuk pertama kalinya,
dan aku pun mengiyakan,
Di sana, di sebuah taman kecil,
kau datang dengan motor tuamu yang membuatmu semakin sederhana,
Tersenyum,
Ya itu yang pertama kali kau lakukan ketika melihatku,
Tak ada yang istimewa darimu,
Kaos dan jeans hitam yang lagi-lagi
menampakkan kesederhanaanmu,
selalu sederhana,
Kupikir pertemuan itu adalah yang pertama dan terkahir,
Karena kau pun tak kunjung mengabariku lagi,
Kau datang dengan kesederhanaanmu,
Dan pergi dengan sederhana pula,
Namun aku salah,
Setahun kujalani hariku tanpa sapaan sederhana yang kau tulis di tiap pagiku
Hari itu kau mengejutkanku,
Kutemukan lagi sapaan itu terselip di antara pesan singkat teman-temanku,
Kau datang,
Kita kembali bertemu,
Kau tak berubah
Tetap sederhana dan akan begitu selamanya,
Dan sampailah saat itu,
Kau mengajakku ke sebuah tempat,
Taman kecil dimana kita pertama kali bertemu,
Di sana, kau beri aku kertas itu bersama sebuah kotak kecil, sederhana
Di sana, dengan sederhana
Kau memintaku,
menjadi pendamping seumur hidupmu,
dalam kehidupan yang sederhana, katamu
Dalam doa sederhana yang kupanjatkan pada-Nya,
kutemukan jawab atas dirimu,
Ya… Aku telah siap
Menjadi pendamping hidupmu selamanya dalam kesederhanaan,
Hari ini hari itu, 1 Oktober
3 tahun telah berlalu
Kupikir kau akan kembali
Meski dengan sederhana, namun tetap kunanti
Hari ini hari itu, 1 Oktober
5 bulan setelah kepergianmu,
Kuberharap kau kembali,
Sama seperti kepergianmu yang kemarin, tapi aku salah
Kau tak kembali,
Dan tak akan pernah kembali,
Kini, kau benar-benar meninggalkanku,
Dalam kesederhanaan cintamu,
Tak mengapa,
Tenang saja,
Aku baik disini,
Bersama gadis kecil mungil yang kau berikan padaku, sesederhana dirimu
Tak perlu kau khawatir di sana,
Kami baik-baik saja,
Rumah kecil sederhana yang kita beli bersama,
Masih penuh cinta, meski tanpa hadirmu,
Tenanglah,
Usah kau risau di sana,
Aku dan gadis kecil ini,
Akan tetap mencintaimu dan kesederhanaanmu,
Kuharap kau baik-baik saja disana,
Bersama Ia yang jauh lebih mencintaimu,
Hari ini, 1 Oktober
Ku datang padamu, dengan sederhana…
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Kulipat kertas itu,
setelah untuk kelima kalinya kubaca berulang,
Kuletakkan di atas gundukan tanah sederhana
Yang menyelimuti jasadmu, di depan nisan yang berukir nama sederhanamu,
Maafkan aku karena tak bisa mencintaimu dengan sederhana,
Seperti engkau mencintaiku dalam kesederhanaanmu,
Karena bagiku kau tak sekedar sederhana,
Kau lah hal luar biasa yang pernah ada dalam hidupku,
Kuusap nisanmu dan kucoba berdiri,
Di sampingku, gadis kecil mungil itu bertanya,
‘Kenapa Bunda Menangis?’
Kujawab hanya dengan senyuman,
Melihatnya, sama seperti melihatmu,
Melihatnya memandang hidup dengan sederhana,
Sama sepertimu,
Kugandeng tangan kecilnya,
“Ayo Pulang”
Ya… kami pulang, ke rumah kecil sederhana yang kita miliki…
Makassar, 1 Oktober 2010
6.39 AM
segala hal dalam hidup bermula dari sesuatu yang sederhana
– Pratiwi Hamdhana AM –


*transmigrasi dari note facebook*

Leave a Reply