Selamat Berusia 21 Tahun, Pratiwi Hamdhana AM

Saya menolak merasa tua dan menolak dianggap tua… Namun, sayangnya waktu memang tak bisa berbohong. Tepat di 22 Maret beberapa hari lalu, di sebuah kamar hotel berukuran 3x4m, di negara tetangga Singapore, saya resmi berusia 21 tahun. DUA PULUH SATU!!!!

Ah perasaan baru beberapa hari lalu biodata di twitter terganti dr 19yo ke 20yo, dan sekarang harus diganti ke 21yo?
Ahhhhh…… kadang sangat tidak rela usia semakin besar angkanya, bukan karena benar-benar menolak merasa tua, tapi karena belum mampu mengukir prestasi luar biasa atau melakukan hal-hal besar dan berguna lainnya. Saya merasa belum berhasil memanfaatkan waktu di kehidupan ini.
Tapi, ya times move on, right? Angka memang tidak penting, tapi apa yg sudah kita lakukan di setiap perubahan angka itulah yang penting. Dan saya? What have I done? Nothing…. saya masih malas menjalankan kewajiban 5x sehari, masih sering menunda2, masih egois, masih malas bangun pagi, masih tidak hidup sehat, dan masih banyak hal-hal lainnya yang membuat saya merasa belum berhasil berbijaksana pada diri sendiri dan kehidupan.
2013 kemarin tidak saya awali dengan setumpuk resolusi, melainkan hanya fokus pada resolusi-resolusi lama yang belum selesai dan pada hal-hal besar yang menjadi peluang di tahun 2013. Namun, mimpi-mimpi tetap bertambah dari ratusan daftar mimpi di bucket list. Sama halnya dengan penyambutan usia jajaran bioskop ini, 21 tahun ini tersambut tidak dengan banyak wishlist yang muluk-muluk, hanya berharap bisa makin dekat dengan-Nya, bisa makin rajin shalat 5 waktu, puasa senin-kamis, dan hal-hal yang bisa membuat hati ini jauh lebih tenang dan damai.
Saya bukannya mau sok religius, tapi semua yang saya dapat ini bukan hanya sekedar bantuan kepercayaan pada konsep #mestakung, melainkan karena Dia memang sangat menyayangi saya, lantas kenapa begitu sulit untuk sedikit saja meluangkan waktu 5x5menit setiap harinya untuk bertemu dengan-Nya lewat lantunan bacaan shalat? Saya malu, malu semalu-malunya.
Walau ada pujian dari mereka di luar sana atau kebanggan karena beberapa mimpi telah tercapai, tapi jelas, sangat jelas ada yg salah dalam kehidupan saya, dan itu semua karena saya semakin sombong untuk berjumpa dengan-Nya. Saya percaya, saya sayang, bahkan saya sangat mencintai Dia, hanya saja saya dilingkupi kepercayaan bahwa bahkan tanpa ritual 5x seharipun saya tahu kalau Dia akan tetap sayang pada saya. Sungguh kesombongan yang luar biasa.
Saya tidak berani meminta maaf lewat goresan aksara digital ini, sebab saya tahu tiada detik terlewatkan Dia telah memaafkan semua kesalahan yang diri ini pernah, sedang dan akan lakukan. Untuk itulah, tulisan ini hanyalah refleksi untuk saya pribadi, agar menjadi cambuk buat diri ini, biar semua orang tahu, kalau saya terlalu sombong, biar semua orang tahu agar saya semakin malu dan semakin sadar diri untuk mendekatkan diri pada Sang Maha Kasih, Sang Pencipta Semesta.

1 Comment

  1. Anonim says: Reply

    Saya tak sengaja mendapat link ke blog ini, setelah selesai membaca tulisanmu kemudian berpikir untuk menulis ini.
    Kenapa tidak menambahkan hal-hal yang lebih bersifat sosial dalam hidupmu, hidup dengan hanya mengejar prestasi atau segala sesuatu bersifat individual hanya mengantarmu menjadi pribadi yang egois. Lihat sekitar, banyak orang yang tak seberuntung kau, banyak orang yang tak mendapat kesempatan yang sama denganmu untuk berprestasi sebanyak mungkin (seperti yang kau citakan) atau bahkan untuk hidup secara layak pun sangat sulit. Mereka tidak bisa mengakses semua yang bisa kau dapatkan dengan mudah (mungkin kau akan menyangkal ini dengan menggumam bahwa kau menndapat semua itu dengan susah payah dan kerja keras).
    Cobalah mulai berpikir betapa sulitnya hidup mereka atau berpikir mengapa mereka tidak sama denganmu atau seberuntung kamu (atau kenapa semesta tak mendukungnya, padahal segala syarat yang ia butuhkan untuk didukung semesta telah dipenuhi). Minimal berpikir saja tentang mereka, dan mungkin itu akan memberi sedikit perubahan bagimu. Oh iya, sedikit tambahan lagi, kalau tidak salah Islam mengajarkan untuk berinteraksi secara vertikal dan horizontal, habluminallah wa habluminannas (semoga tidak salah, hehe), mungkin bisa jadi tambahan referensi dalam moda peribadatanmu.
    Salam.

    PS: Tak usah ditanggapi, mungkin saya juga tidak akan membaca tanggapanmu. 😀

Leave a Reply