Jauh-Jauh Traveling Sendirian Dari Makassar ke Eropa, Saya Justru Jadi Korban Kriminalitas

 

Shit… Baca judulnya saja sudah bisa membawa pikiran membayangkan hal yang aneh-aneh ya. Sebut saja beberapa tindakan kriminalitas yang sering kita dengar di berita, dirampok – diculik – diperkosa – dijual/perdagangan manusia/organ, dll. berapa dari kalian yang punya kerabat / kenalan yang pernah menjadi korbannya? Atau apakah kalian pernah menjadi korban kriminalitas? Saya pernah, dan itu terjadi saat saya berada ribuan mil jauhnya dari rumah, sendirian.

Berawal dari mimpi menjejakkan kaki di kota yang katanya merupakan salah satu kota teromantis di dunia, Paris, akhirnya Semesta memberikan saya kesempatan untuk menyambangi tempat si gagah dan menawan Eiffel berada. Tak hanya ke Perancis, tapi juga ke beberapa negara di benua biru, Eropa. April-Mei 2012 adalah kali pertama saya melakukan perjalanan seorang diri, setelah selama ini melakukannya bersama beberapa orang atau sekumpulan orang. Kala itu saya sendiri tak mau menjadi pejalan tunggal, kalau bisa ramai-ramai kenapa mesti sendiri kan? Namun, sayangnya taka da satupun teman/kenalan yang saat itu mau diajak ke Eropa berkelana sebulan lamanya dengan gaya hemat ala backpacker, padahal tiketnya cukup murah, +/- 3 juta rupiah untuk KL-Paris-KL dengan Air Asia (yang akhirnya diubah ke Malaysian Airlines, tanpa tambahan biaya apapun).

IMG-20120529-01317
yeay… dapat keberuntungan pindah ke MAS yang fullservice, FREE!!!
Singkat cerita, akhirnya saya putuskan untuk berjalan sendiri. Berbekal dana hasil usaha buku tahunan (+/- 10 juta rupiah), beberapa pakaian, kamera, buku catatan, Lonely Planet – Europe in Shoestring yang dibeli di Kinokuniya Kuala Lumpur, beberapa saat setelah pertemuan pertama dengan Kak Ariev Rahman dan mamanya yang kece – serta doa Bapak dan Mamak, akhirnya saya berangkat. Penerbangan 12 jam non-stop KL-Paris cukup menyenangkan, terlebih ternyata saya satu pesawat dengan artis Indonesia, yang baru saya tahu bernama Randi Pangalila, setelah saya update status di salah satu platform sosmed yang bunyinya kurang lebih “eh, artis yang maen di cinta fitri yang pacaran sama moza itu namanya siapa? Saya satu pesawat ama dia dong, duduknya persis di belakangku lagi”.

 

DSC_0877
Mak, Tiwi udah di Paris, Mak… DI PARIS !!!
Perjalanan sendirian ke tempat yang sangat instagram-able ini mengharuskan saya membuat rute yang efisien, waktu dan biaya. Maka lahirlah jalur : Perancis – Belgia – Belanda – Jerman – Swiss – Itali – Spanyol. Memanfaatkan moda-moda transportasi di Eropa yang cukup murah dan sering memberikan promo serta kebaikan hati para couchsurfer yang selalu siap siaga memberikan tumpangan (kecuali di Swiss, tepatnya di Jungfraujoch, saya tidak menemukan tumpangan CS, serta di Italy dan Spanyol, yang sebenarnya banyak yang menawarkan, tapi mukanya muka mesum semua, hufh) maka bekal 10 juta pun aman untuk sebulan perjalanan.

DSC_0980
Me and Noelle, my new sister, found through Couchsurfing, she is very kind and amazing
Sampai akhirnya saya tiba di Barcelona, persinggahan terakhir sebelum kembali ke Paris lalu pulang ke Indonesia. Di Barcelona sendiri saya hanya menginap untuk 3 malam, di sebuah hostel di pinggiran kota yang kala itu sudah saya lunasi pembayarannya. Untuk berkeliling kota sendiri terdapat tiket terusan untuk train/bus dalam kota, sehingga beli sekali untuk dipakai seharian penuh. Terlebih lagi, kebanyakan tempat di Eropa sangatlah enak untuk ditempuh dengan berjalan kaki, maka untuk hemat pun sangatlah mudah, apalagi ketika saya sadar bahwa sisa uang yang saya miliki hanyalah 150 euro dan beberapa sen.

 

Park-Guell-Barcelona-the-most-beautiful-park-in-the-world-img21
ini dia Parc de Guell yang cantik tapi meninggalkan kisah kelam *halah* [image: google.com]
Hari pertama di Barcelona saya berencana untuk ke Parc de Guell, salah satu taman karya Antoni Gaudi. Setelah mendapat cukup informasi dari Bapak Tua pemilik hostel yang baik hati, saya pun berangkat, sendirian tentu saja.

Setelah tersesat karena salah arah mengambil bus, lalu tersesat lagi karena naik bus dengan nomor yang salah, lalu tersesat lagi karena turun di bus stop yang tidak seharusnya, akhirnya sampai juga saya di ujung jalan menuju Parc de Guell.

4_2009_07_07_baixada_de_la_gloria_barcelona_spain_kiss_from_the_world_travel_and_people_magazine
ini jalanan menuju Parc de Guell [image: google.com]
Untuk sampai di Parc de Guell, harus melewati tangga dan jalan setapak dulu. Saat itu sudah siang, dan terlihat sepi jalanannya, namun tidak mencekam seperti di film-film atau serial ala CSI. Saya pun melangkah dengan pasti, sampai akhirnya seorang pria berhidung mancung, berkulit putih, bermata below, beralis tebal, tapi tidak cukup tampan untuk menarik hati, menghampiri saya sambil menyodorkan kameranya. Bukan, bukan, dia tidak menawari saya untuk membeli kameranya, melainkan meminta tolong untuk difoto.

 

11522167
ada fasilitas eskalator juga [image: google.com]
Di sinilah malapetaka itu dimulai. Berkaca dari pengalaman saya yang sering merasakan kesulitan berfoto jika jalan sendiri, maka dengan senang hati saya pun membantu pria asing itu. Setelah beberapa kali berganti gaya dan latar belakang, akhirnya dia puas dengan hasil fotonya, dan kami pun berpamitan.

 

Tidak beberapa lama, dua orang pria berbadan besar menghampiri saya dan si pria asing yang minta difotokan. Dua pria ini dengan bahasanya sendiri, bukan Bahasa Inggris, lalu berbicara kepada saya dan si pria asing sambil menunjukkan isi dompetnya. Bukan, kami tidak sedang ingin diberi uang, melainkan mereka menunjukkan kartu identitas yang entah apa artinya karena hanya beberapa detik lalu dimasukkan kembali ke kantong mereka, entah kantong celana atau rompi yang mereka pakai, saya sudah tidak sempat memerhatikan lebih detail.

Lalu, terlihat salah satunya berbicara dengan si pria asing yang kemudian membuat si pria asing mengeluarkan passportnya, lalu mereka dengan gerakan yang saya tangkap untuk meminta saya melakukan hal yang sama, maka saya pun menunjukkan passport saya. Setelah dicek, mereka kembalikan. Tapi, tidak berakhir di situ saja ternyata.

Si pria asing yang gemar difoto tapi tidak cukup tampan tadi lalu mengeluarkan dompetnya yang kemudian berpindah tangan ke salah satu dari dua pria berbadan besar yang kala itu saya pikir adalah polisi. Mereka lalu memeriksa isi dompet si pria asing yang gemar difoto tapi tidak cukup tampan tadi, lembaran-lembaran uangnya dikeluarkan lalu salah satu dari yang saya kira polisi mengeluarkan senter dan menyinari uang-uang tersebut, lalu temannya yang satu mengendus uang tersebut, seakan-akan seperti anjing kepolisian yang sedang mencari jejak. Setelah itu uang tersebut dikembalikan ke dalam dompet dan dompetnya dikembalikan ke si pria asing yang gemar difoto tapi tidak cukup tampan tadi.

Mereka lalu menoleh ke saya, dan karena saya anaknya baik hati dan penurut serta selalu berpikiran positif, maka saya pun mengeluarkan dompet saya. Mereka menemukan beberapa lembaran uang, namun bukan euro, melainkan rupiah dan beberapa ringgit, dan bodohnya saya masih ingat kala itu saya dengan polosnya mengatakan “it’s the money from my country, not useful for you, very low”, ah forgive me Indonesia. Lalu mereka membuka resleting bagian dalam dompet dan tadaa… di sanalah terdapat 3 lembar pecahan 50 euro saling terlipat. Saya lupa, benar-benar lupa, biasanya saya tidak akan membawa cash sebanyak itu, semua akan saya taruh di backpack yang saya gembok dan saya simpan di kamar hostel/rumah CS, dan paling hanya bawa 20-50 euro per hari.

Si duo badan besar lalu melakukan hal yang sama, menyinari dengan senter, mengendus lalu mengecek pinggiran uang setelah jempolnya dibasahi dengan air liur, eeewww.

Setelah puas, lalu uang itu dikembalikan seperti semula ke tempatnya semula, di dalam kantong ber-resleting di bagian dalam dompet, yang mana saya liat sendiri salah satu dari mereka bahkan menutup resletingnya dan teman satunya lagi yang kemudian menyerahkan dompet ke saya. Mereka lalu senyum, dan membolehkan saya pergi. Kami pun berpisah tanpa kata dan tanpa pelukan, saya menuju ke atas, ke tujuan awal Parc de Guell, si duo badan besar dan si pria asing yang ge..(ah terlalu panjang, mari sebut dia si pria asing saja) berjalan kea rah yang berlawanan, bersama-sama.

WHAT? WAIT? BERSAMA-SAMA? KENAPA MEREKA BERJALAN BERSAMA-SAMA? KENAPA?

Saya lalu berhenti berjalan, seakan tersadar, lalu firasat buruk menyerang, keinginan untuk segera mengecek dompet sungguh membuncah, seperti keinginan untuk tiba-tiba buang air yang tak tertahankan lagi. Saya lalu mengambil dompet, mengecek, uang rupiah dan ringgit amat, buka resleting, dan yang terlihat hanya koin-koin euro, si 3 lembar 50 euro sudah tidak ada di tempatnya lagi. Saya shock, diam, 1 detik, 2 detik, 5 detik, lalu saya bergegas balik badan dan mengejar si 3 orang pria tersebut, sayangnya mereka seperti menghilang ditelan bumi.

Saya kelelahan mengejar, lalu saya terdiam, berdiri seperti patung, kenyataan bahwa saya baru saja dirampok tidak cukup untuk membuat saya lantas jatuh pingsan atau setidaknya menangis. Tidak, saya diam saja lalu berjalan pelan kembali ke stasiun kereta, menuju hostel. Saya tak lagi peduli dengan Parc de Guell, saya hanya ingin pulang. Di dalam kereta yang sepi, hanya ada saya dan satu orang ibu. Sesaat setelah kereta berjalan, saya menangis, tersedu-sedu, bukan hanya karena habis dirampok, tapi karena menyadari bahwa itu 150 euro terakhir yang saya punya dan saya masih harus bertahan hidup hingga kurang lebih seminggu ke depan. Saya pun terisak di dalam kereta dan cukup menarik perhatian si ibu yang kemudian mengucapkan sorry atas kejadian yang menimpa saya.

Sesampainya di hostel, untungnya kamar dorm yang saya tinggali tak dihuni siapapun selain saya. Lalu, saya kunci kamar, saya matikan lampu, tutup jendela, dan baring dengan mengubur diri di dalam selimut. Saya ternyata trauma dan tak lagi mau keluar. Tak berapa lama, setelah cukup tenang, saya menelpon Mamak di Makassar dengan skype. Tepat ketika ia bilang “Halo?” saya langsung menangis (lagi), kali ini lebih kencang. Setelah beberapa menit akhirnya saya capek juga menangis dan Mamak akhirnya punya kesempatan untuk bertanya, “kenapako? Kenapako, nak? Diamko dulu, kenapako?”. Saya menjawab singkat, “dirampokka”, lalu kembali terisak namun segera terdiam kaget karena mendengar tanggapan Mamak, “astaga, kukira diperkosako deh”. Naudzubillah.

Akhirnya setelah bercerita detailnya dan menenangkan diri serta menyakinkan Mamak kalau saya akan baik-baik saja dan berkecukupan, karena masih ada 2 kartu kredit yang setidaknya bisa dipakai untuk seminggu ke depan. Saya pun kembali tidur dan mengubur diri dalam selimut, lalu ketiduran.

Lantas, bagaimana saya bertahan diri untuk seminggu ke depan dengan uang yang hanya tersisa beberapa puluh sen saja? Apakah kejadian ini lantas membuat saya apatis dan tidak mau lagi melakukan perjalanan, khususnya seorang diri?

Akan saya ceritakan di postingan selanjutnya 😉

 

Cheers,

Tiwi

 

 

kisah ini pernah dimuat di : http://www.republika.co.id/berita/koran/leasure/14/12/30/nhe3sg4-siesta-pengalaman-tak-terlupakan

 

 

 

 

 

 

 

6 Comment

  1. Padahal tadi kelihatannya lembaran uang itu sudah dikembalikan di dompet di’ 🙁 atau dihipnotiski iya? Ngeri tong gaya rampoknya orang asing di’~ hehehehe

    1. Iya, kayaknya semacam dihipnotis :(( tapi semua ada hikmahnya, tunggu aja postingan selanjutnya, hahaha

  2. Putri says: Reply

    Waah salut dengan keberaniannya mba travelling sendirian. Saya masih belum berani kalau keluar negeri sendiri, masih dalam negeri aja. Salam kenal mba 🙂

    1. Salam kenal, kak putri 🙂

      Yuk sekali2 dicoba sendiri di negara orang, pasti seru juga loh

  3. acci says: Reply

    Hahahaha mantap mantap.
    Oh Orang makassar ki.!!!
    Salam Backpacker

    1. Halo, kak acci… Salam 😉

Leave a Reply