Mie Dingin di Musim Dingin

IMG_9943Saya masih ingat hari itu. Hari di mana saya bangun lebih lambat, memilih untuk tidur lebih lama, di salah satu ranjang susun di sebuah hostel di Urumqi, ibukota Provinsi Xinjiang, sebuah daerah di barat Cina. Urumqi ( dibaca Urumci ) hanyalah persinggahan saya kala itu, sebelum melanjutkan perjalanan di kota paling ujung barat Cina, Kashgar.

Kala itu saya sudah memasuki setengah perjalanan dari 2 bulan perjalanan berkeliling China – Mongolia. Udara sudah sejuk, meski sempat beberapa kali menjumpai salju turun di Ulan Bataar, ibu kota Mongolia, namun hanya semacam rintik-rintik gerimis, tidak lebat.

IMG_9906
One Fine Sunny Day in Urumqi

Berharap cuaca sudah mulai menghangat, lewat pukul 10 atau 11 pagi hari itu, saya bangun dari tidur, mengambil peralatan mandi lalu membasuh diri di 1 x 1 meter shared-bathroom di lantai 3 hostel itu. Mengingat kemarin saya sempat mencuci baju, selepas mandi saya lalu bergegas ke luar untuk mengambil jemuran. Betapa kagetnya saya ketika melihat jendela penuh dengan embun, menutup pemandangan kea rah jemuran. Saya mendekat dan kaget. Seluruh baju saya sudah lembab dan terdapat banyak butir-butir putih di sepanjang tembok. Lucunya kala itu, ada yang menggantung satu kantong plastic putih berisikan makanan yang akhirnya membeku dan penuh dengan bunga es ( kau tahu, kondisi di mana es yang berbentuk semacam es serut ). Entah apa tujuan si pemilik makanan menjemur makanannya. Lalu pandangan saya beralih ke sekeliling. Entah sejak jam berapa semalam atau dini hari atau subuh hari, salju turun, begitu lebat. ( Tidak ) Secepat kilat saya angkat semua jemuran dan menggantungnya di dalam ruangan. Lalu, bergegas mengambil Uti dan kamera, turun ke bawah. Kebetulan tamu hostel kala itu hanya saya, seorang pria Taiwan yang berkeliling Cina dengan sepeda, si penjaga hostel ( pria Kanada yang sebenarnya juga adalah tamu, namun dapat tumpangan gratis dengan menjadi penjaga hostel sementara sembari membuatkan kopi bagi para tamu ) dan seorang pria di atas 30 tahun yang memang asli penduduk Cina, tak bisa berbahasa Inggris sama sekali, hostel masih sepi, mungkin semuanya masih tidur.

IMG_9905

Saya lalu membuka pintu, dan melangkah keluar. Kebodohan pagi itu adalah, saya hanya memakai sandal Eiger biasa, sehingga ketika kaki menapak tanah di luar hostel, kaki saya terendam salju hingga setengah lutut.

Saya melangkah kea rah belakang sembari memegang Uti. Semakin ke belakang, genangan salju semakin tinggi, semuanya putih, cantik. Sebagai penduduk tropis, salju selalu menjadi hal yang menakjubkan. Dengan menahan dingin di kaki, saya letakkan Uti di ranting terdekat dan dengan penuh kebahagiaan saya ambil setangkup salju dan memakannya. Ah, enak. Jujur saya, ketika saya kecil saya punya kecanduan untuk memakan bunga es ( atau setidaknya begitulah kami sekeluarga menyebut tumpukan es yang melengket di dinding bagian freezer kulkas ), Tiwi kecil kala itu senang mengeruk dinding kulkas demi mendapatkan setangkup atau bahkan semangkuk bunga es, untuk kemudian dimakan, entah dengan tangan kosong atau dengan bantuan sendok besi atau gelas. Bodoh amat dengan anjuran bahwa itu tidak sehat atau karena itu badan saya jadi melebar, yang penting saya bahagia dan puas menikmati bunga es.

Tak puas sekali mencoba dan masih takjub, saya lantas menggoyangkan dahan-dahan dan mencoba meraup bunga es yang berjatuhan untuk kembali dinikmati oleh indera pengecap. Ah, kurang sirup DHT nih.

Setelah cukup menggigil, saya dan Uti mengambil beberapa foto, lalu kami bergegas masuk, menghangatkan diri.

IMG_9961

Sesampainya di lobi hostel, tiga pria sudah berkumpul ( si Taiwan, si Kanada dan si penduduk Cina asli ). Kami lalu membicarakan salju lalu muncullah ajakan makan yang saya lupa dari siapa, mungkin si Kanada, yang memang sempat bercerita kalau dia sangat senang dengan makanan Cina. Saya pun, Bang, apakah ini pertanda?

Setelah berdiskusi, kami putuskan untuk makan di tempat yang tidak terlalu jauh. Saya pamit sebentar untuk mengambil jaket dan mengganti sepatu. Terima kasih untuk Kak Ummy, yang di hari pertama kita bertemu di Beijing membawakan saya hadiah sepasang sepatu boot cokelat muda yang sangat nyaman dan cantik.

IMG_9935

Begitu kami melangkah keluar dari hostel dan berniat berjalan kaki, tiba-tiba salju turun. Ini memang bukan pengalaman pertama saya menikmati salju turun, namun ini yang paling lebat dari semua pengalaman yang ada. Saking lebatnya, semua jari-jari tangan saya sakit, terlalu lama menahan dingin.

Melihat salju yang semakin lebat, si Cina melalui si Kanada yang pandai berbahasa Mandarin, menawarkan menggunakan mobilnya. Kami pun bersama-sama dengan mobil sedan si Cina menuju tempat makan. Meski awalnya agak susah karena ban mobil terendam terlalu dalam, akhirnya mobil kami berhasil jalan.

Tempat makan yang dituju tidak terlalu jauh, namun Urumqi sudah menjadi ibu kota provinsi yang padat, terlebih kami keluar di jam orang berangkat kerja. Mobil berbelok ke kiri, memasuki kawasan yang di kanannya penuh dengan rumah makan Cina. Saya penggemar berat makanan Cina, apalagi biji cabai kering yang dilumuri minyak, yang wajib ada di setiap rumah makan, sebagai penambah sedapnya makanan.

IMG_9969

Setelah parikir dan berhati-hati jalan keluar mobil menuju rumah makan yang diarahkan si Kanada, sebab jalanan sangat licin meski petugas pembersih sudah membersihkan tumpukan salju. Sesampainya di dalam, si Kanada menjelaskan kalau rumah makan ini terkenal dengan pao-nya, atau kita lebih kenal dengan nama bakpao. Kami lalu memilih tempat duduk yang agak di dalam, meja untuk berempat.

IMG_9956
Brunch

Karena bingung dan tidak tahu mau makan apa, si Kanada lagi-lagi turun bicara membantu memesankan saya makanan setelah sebelumnya mengkonfirmasi apakah saya tidak makan babi / pork sama sekali.

IMG_9955
Pao dan si Mie Dingin

Tidak berapa lama, pesanan kami datang, beberapa tumpuk wadah pao yang kemudian didistribusikan ke masing-masing kami. Mereka bertiga makan pao berisi daging, dan saya mendapatkan isi sayur. Lalu datang lagi beberapa piring berisikan mie. Si Kanada menyodorkan saya sebuah piring dengan mie kuning lebar, yang saya konfirmasi ulang bahwa tak mengandung babi. Menggunakan sumpit, saya mencoba mie tersebut. Lidah saya langsung bereaksi bersamaan dengan ekspresi aneh di muka saya yang dilihat oleh si Kanada. “That is a cold noodle, do you like it?”

IMG_9954
Cara efisien biar tidak harus cuci piring kotor atau kalau mau langsung bungkus

Do I like it? Udah kedinginan, menggigil, di luar salju lebat, si Kanada ini mesenin saya mie dingin? Bener-bener dingin, bukan dingin karena kelamaan ditinggal setelah di masak, dingin seolah-olah dituangin es batu. Untung aja cakep kamu, Kanada, hufh.

“This is the first time I eat cold noodle, but I like it, delicious” ini jawaban jujur, memang enak. Entah karena saya lapar, atau memang sudah saking cintanya dengan makanan Cina, tapi benar, mie dingin ini enak, apalagi dipadukan dengan pao hangat isi sayur. Saya bahkan kekenyangan dan hanya sanggup makan 2 dari 4 jatah pao. Untungnya si Cina berbaik hati menghabiskan jatah pao saya.

Setelah kami semua selesai makan dan menikmati teh panas tawar ala Cina, kami lalu bergegas pulang, setelah sebelumnya mencoba membayar namun si Cina bersikeras untuk mentraktir kami. Kami pun kembali ke hostel bersama-sama, tentu saja dengan mobil si Cina.

Ah, nikmat Tuhan mana lagi yang Engkau dustakan. Bangun di sambut hujan salju, menikmati salju tanpa harus susah payah mengeruk lemari es, menemukan teman-teman baru, mencoba mie dingin untuk pertama kalinya di musim dingin, dibayarkan pula.

Kamu pernah coba makanan “aneh” apa ketika traveling?

2 Comment

  1. putri says: Reply

    bao tiwi bukan pao hhee

    1. Hahhaha, thanks, put, koreksinya, semangat juga di sana naaah

Leave a Reply to putri Cancel reply