Memburu Beasiswa Itu Melelahkan

Saya menulis ini dalam keadaan frustasi, kelaparan dan jika dapat diukur tingkat stressnya maka mungkin sudah mencapai level tertinggi, yang berakibat ke kondisi tubuh yang menurun. Badan lemas, mual-mual dan tidak bergairah melakukan apapun ( mungkin juga karena saya dalam masa menstruasi ).

Jadi, dari mana saya harus memulai?

Seperti yang selalu saya katakan, entah di status sosial media ataupun tulisan di blog, saya adalah orang yang sangat terencana dalam menjalani hidup. Setelah ini, saya sudah tahu mau ke mana dan langkah-langkah apa yang harus saya tempuh.

Hampir delapan bulan lamanya saya bertugas di Fakfak, yang berarti tersisa empat bulan lagi. Empat bulan yang super padat inilah yang kemudian saya gunakan untuk mulai mencicil rencana berikutnya, melanjutkan studi.

Keterbatasan signal dan waktu membuat saya harus cerdas dan cerdik dalam menyusun rencana cicilan ini. Sebab jatah ke kota hanyalah bisa beberapa hari saja dalam sebulan, itupun jika ada urusan kerjaan yang mengharuskan ke kota atau ada urusan mendesak, seperti sakit atau sudah 1 minggu tidak mandi / BAB karena di kampung lagi kering.

Empat bulan yang tersisa ini dipenuhi dengan kegiatan yang mengharuskan kami menambah mobilitas, mulai dari fasilitasi KKG ( Kelompok Kerja Guru ) dan KBB ( Kegiatan Belajar dan Bermain ) di setiap distrik/kecamatan penempatan kami, beberapa kegiatan fasilitasi penggerak lokal hingga persiapan forum atau agenda untuk 1-2 bulan ke depan.

Jadi, bisa dibayangkan, fokus yang sudah harus terbagi antara kampung dan kegiatan di luar kampung, ditambah harus mencicil perburuan beasiswa. Alhamdulillah, sekolah tempat saya bertugas sudah cukup mandiri dan memiliki tenaga pengajar yang memadai. Belum lagi masyarakat yang terbuka akan perubahan positif dan didukung oleh penggerak daerahnya.

Sedikit kilas balik, Januari 2016 dimulai dengan pelaksanaan fasilitasi KKG + KBB di 2 distrik, dengan jumlah peserta terdiri dari 5 – 7 sekolah per distrik, salah satunya adalah distrik penempatan saya. Lalu awal Februari disibukkan oleh beberapa kegiatan, salah satunya persiapan launching rumah baca. Tepatnya di 7 Februari 2016,  Rumah Baca Kompostifa di Arguni resmi dibuka. Ditambah beberapa kegiatan kampung dan distrik yang melibatkan kehadiran saya.

Saat ini, kami tengah menyiapkan salah satu agenda besar, Forum Keberlanjutan Tingkat Kabupaten. Tak usahlah saya jelaskan ini apa, yang jelas untuk persiapan ini pun menuntut kami untuk bekerja lebih ekstra, serta harus pandai mengatur waktu bolak balik kampung-desa ( bagi yang akses transportasinya lumayan mudah ). Belum pula kegiatan ini berlangsung, kami pun harus sembari menyiapkan agenda besar lainnya, RUBI ( Ruang Berbagi Ilmu ) yang inshaaAllah akan dilaksanakan di bulan April dan saya kebetulan diamanahkan menjadi PIC-nya. Lalu, terlepas dari itu semua, kami, sebagai pengajar, tentu tetap harus melaksanakan tugas utama, yaitu mengajar. Saya sendiri pun mendapatkan amanah tambahan untuk memberikan pengayaan pada siswa-siswi kelas 6 untuk persiapan UN.

Jadi, ya, menjadi PM memang sesibuk itu. Meski sering kali, beberapa dari kami memilih untuk tidak memposting kesibukan kerjaan kami di sosial media, tapi percayalah, jadi PM memang sesibuk itu, apalagi PM di tahun terakhir, demi keberlanjutan. Oh iya, saya pribadi kenapa jarang memposting urusan kerjaan di sosial media, karena sosial media adalah sarana penyaluran saya untuk sekedar melepas penat. Jadi, kalau di sosial media pun saya memposting kerjaan, ke mana saya harus menyalurkan pikiran-pikiran lain yang tidak melulu soal pekerjaan? Tapi, ya sudahlah.

Kembali ke perkara beasiswa. Bayangkan dengan agenda sepadat itu, apakah saya punya waktu untuk memburu dan mengurus segala tetek bengek perbeasiswaan? Jawabannya, mau tidak mau, saya harus membuat waktu itu.

Di tengah-tengah kesempatan berkunjung ke kota, di antara TOR Program yang harus dibuat, di antara pertemuan relawan/penggerak yang harus dihadiri, saya putuskan untuk mengurangi waktu me time dan mengalihkannya untuk mengurusi beasiswa, Mengurangi jam tidur demi mengisi formulir – menulis esaay – mencari informasi. Bahkan, di tengah keterbatasan sinyal di kampung, saya meminta tolong bantuan beberapa teman melalui telepon ( alhamdulillah di kampung untuk sekedar menelpon dan sms lancar, untuk bersosial media atau browsing kadang-kadang, sebab kami hanya kecipratan sinyal dari tower distrik tetangga ) utnuk membantu pengurusan dokumen-dokumen yang mesti diurus, seperti meminta surat rekomendasi pada dosen, mengurusi penerjemahan dan legalisasi dokumen yang diminta, dll.

Mulai dari beasiswa pemerintah Cina, Inggris, Amerika, Australia hingga Indonesia, saya daftari. Ada yang sudah menolak, ada juga yang menyambut baik untuk ke tahapan selanjutnya, ada juga yang masih dalam proses, serta ada juga yang sudah pasti 90% di tangan, hanya sisa mengurusi kelengkapan berkas. Memang, usaha saya alhamdulillah tak sia-sia, keringat saya tak berkhianat. Tapi, seperti yang saya bilang di judul tulisan ini, Memburu Beasiswa Itu Melelahkan, sungguh.

Di antara dinamika pekerjaan yang kadangkala mendapatkan tantangan birokrasi yang kemudian menjadi beban pikiran, saya masih harus melengkapi berkas-berkas untuk beasiswa yang masih dalam proses pendaftaran. Berkirim surel dengan pihak kampus-kampus yang saya daftari. Menulis essay, personal statement bahkan ada yang meminta video statement. Ditambah dengan beberapa pikiran terkait hal-hal lain di luar kedua hal ini, pekerjaan sekarang dan beasiswa. Semuanya memenuhi pikiran saya. Saya lelah.

Beberapa kali terpikir untuk mundur saja, tapi ketika mengingat kembali investasi yang telah saya lakukan sejauh ini, baik moril maupun material, rasanya sayang untuk mundur. Apalagi sudah ada beberapa aplikasi yang bersambut baik.

Mungkin saya hanya butuh istirahat sejenak agar bisa kembali fokus dan menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Serta mengingat bahwa di luar sana ada orang-orang yang saya kenal juga berada di jalur perjuangan yang sama, rasanya begitu pengecut untuk mundur sekarang.

I just need to do a little more, yeah a little more. 

Bismillah

Fakfak, 18 February 2016

6:46 PM

7 Comment

  1. lies says: Reply

    Mba.. moga di mudahkan dan dilancarkan segala urusan nya.. amin..
    seneng deh lihat anak muda penuh semangat gini..

    1. Amiin, makasih Kak Lies 🙂

  2. thia saja says: Reply

    Moga berhasil meraih beasiswa idamannya ya mba.. amiin..
    ikutan senang melihat usaha2nya mba mengikuti rencana2 yang sudah disusun.
    Dan saya cuma ikutan menambah masukan beasiswa incaran, bagaimana kalau Turki? Sepertinya juga bagus yaa.. karena letaknya dekat benua afrika asia, dan eropa. Hehehe, sekali dayung, dua tiga benua dijelajahi.. 🙂
    Semangat yaaa!

    1. Hi, kak Thia
      Makasih banyak, ya

      Amiin… Iya rencana mau apply Turkiye juga, buka Maret kan ya, Kak?

  3. […] Kabupaten dan juga tugas mengajar di kampung. Saya bahkan sampai stress dan frustasi (dapat di baca di sini), di tengah semua tugas di penempatan dan keriuhan menyelesaikan aplikasi – aplikasi beasiswa […]

  4. putri says: Reply

    tiwi sdh apply k turki? itu sdh buka

    1. Kasih kelar dulu chevening satu, biar bs fokus, hahaha

Leave a Reply