Scholarship Hunting : Chevening – Part 2

[images from Google]

Berburu bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh kemahiran dan peralatan yang mumpuni untuk mendapatkan target yang juga tidak kalah menariknya. Sama seperti dalam berburu beasiswa, dibutuhkan kemahiran dan peralatan tertentu agar bidikan kita tepat sasaran.

Saya pernah berjanji, ketika saya memperolah beasiswa, apapun itu, saya akan mencoba membantu siapa saja yang juga berjuang untuk mimpi yang sama. Saat ini sih saya belum ada kepastian terkait beasiswa yang sedang saya bidik dan proses untuk didapatkan, namun karena saya sudah selangkah lebih dekat dengan target, telah melalui proses wawancara, maka saya akan mencoba untuk berbagi sedikit cerita mengenai wawancara Chevening.

Seperti yang telah saya ceritakan di sini, bahwa tidak mudah menemukan sesama orang Indonesia yang juga akan wawancara Chevening untuk saling mendukung dan berbagi cerita, namun berkat bantuan teman-teman di grup FB, yang berasal dari banyak negara, mendekati hari H saya mulai mempersiapkan diri. Apa saja yang saya persiapkan ?

  1. Menuliskan daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan ketika wawancara. Sebenarnya daftar ini bisa diketahui dengan mencari melalui google, tapi memang selalu lebih menenangkan ketika mendengar langsung dari mereka yang sudah melaluinya. Sebagai orang yang pernah diposisi tersebut, si pencari informasi, saya tahu betul perasaan insecure yang melanda ketika informasi yang sebenarnya sudah cukup jelas, namun tidak cukup membuat tenang, sebab tidak mendengar langsung dari pihak terkait. Maka, sebagai pihak yang telah menjalani proses wawancara, saya berikan beberapa kisi-kisi apa saja yang biasanya ditanyakan (walaupun sebenarnya tidak akan jauh beda dengan essay yang kalian tulis) :
  • Ceritakan tentang diri kamu
  • Ceritakan pengalaman kepemimpinan kamu
  • Ceritakan mengenai jaringan / networking kamu
  • Apa rencanamu dalam 5-10 tahun ke depan
  • Apa keuntungan yang menurut kamu dapat diperoleh dengan memberikanmu beasiswa
  • Kenapa memilih jurusan itu, kenapa harus melalui beasiswa ini, kenapa harus negara ini

Kurang lebih hal-hal tersebut yang akan ditanyakan dalam 30 menit proses wawancara.

Tips dari saya : cobalah untuk menikmati dan membuat proses wawancara semenyenangkan mungkin, tapi jangan berlebih. Meski deg-degan, percayalah 30 menitnya tidak akan terasa. Saya sendiri saking deg-degannya asam lambung jadi naik dan mual-mual, tapi untunglah selama proses wawancara tidak terjadi dan ternyata 30 menit itu singkat 😉

  1. Latihan, latihan, latihan. Saya sangat berterima kasih karena berkat bantuan Kak Mita, teman yang sudah saya repotkan sejak awal proses aplikasi ini, mulai dari proof reading essay – periksa grammar, dll – hingga H-1 saya sengaja nge-booking­ dia 2 hari 1 malam untuk latihan wawancara, awalnya sih niat untuk latihan IELTS, tapi berakhir ke wawancara. Latihan membantu kamu untuk terbiasa dengan jawaban-jawaban yang kamu siapkan. Saran terbaik dari sesi latihan kami, cobalah untuk mengingat poin dari setiap jawaban, jangan menghapal penuh jawabannya, karena akan sangat kelihatan jika kamu menghapal. Pahami baik-baik pertanyaannya, lalu jawab. Contohnya untuk pertanyan kepemimpinan, jika yang ditanyakan pengalaman kepemimpinan, maka coba jawab dalam bentuk narasi secara beruntun mengenai pengalaman kepemimpinan kamu. Namun, jika yang ditanyakan mengenai skill kepemimpinan, maka akan lebih baik jika kamu jawab dalam bentuk point (firstly, second, etc) tapi tetap dalam urutan waktu yang sesuai.

Cobalah latihan berkali-kali, dan di beberapa latihan terakhir, gunakanlah pengatur waktu, usahakan jawaban-jawaban kamu tidak terlalu singkat, tapi juga tidak terlalu panjang. Biasanya mereka akan menanyakan 5-6 pertanyaan dalam 30 menit, sehingga kamu punya 4-5 menit untuk setiap pertanyaan. Namun, jangan berpatokan pada waktu tersebut, jika memang tidak butuh panjang, cukup jawab semaksimalnya, jangan sampai hanya karena menginginkan jawaban panjang, kamu justru keluar dari topic.

Jadi, cobalah cari teman yang dapat membantumu latihan, tapi INGAT ! cari yang bahasa Inggrisnya jauh di atas kamu. Ketiga orang yang akan mewawancara kamu di antaranya ada 2 orang British, maka dari itu kamu butuh teman latihan yang kemampuan bahasa Inggrisnya di atas rata-rata.

  1. Aturlah perjalanan dengan bijak. Jika kamu tinggal jauh dari tempat / lokasi wawancara, usahakan untuk datang lebih awal atau kalau kamu di luar kota, usahakan datang beberapa hari sebelumnya. Jeda hari tersebut dapat digunakan untuk cek lokasi 1-2 hari sebelumnya sehingga tidak kebingungan ketika hari H. Tapi, jika kamu tinggal di kota yang sama, usahakan sudah tiba di lokasi paling lama 30-45 menit sebelum wawancara sehingga kamu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, termasuk suhu ruangan Kedutaan Inggris yang dingin untuk kasus saya. Saya tiba di Jakarta dari Papua Barat beberapa hari sebelum hari H, selain untuk latihan juga agar tidak panik mendekati hari H. Saya bahkan menginap satu malam di Pomelotel, hotel yang cukup dekat dengan Kedutaan Inggris, agar paginya saya tidak usah berangkat terlalu pagi untuk menghindari macet, dan juga untuk tempat latihan yang lebih tenang.
  2. Perhatikan email mengenai dokumen yang harus bawa. Beberapa hari sebelum hari H, pihak Chevening biasanya akan mengirimkan surel mengenai dokumen apa saja yang harus dibawa ketika wawancara. Untuk kasus saya, saya diminta membawa tanda pengenal, transkrip, ijazah dan surat referensi. Namun, saya teledor, saya hanya membawa copy-annya saja untuk ijazah dan transkrip, sebab dokumen aslinya ada di Makassar. Meskipun saya sempat singgah di Makassar beberapa hari untuk mengurus dokumen lain, saya lupa membawa dua dokumen ini dan baru ingat ketika di bandara Makassar, beberapa menit sebelum boarding. Saya pun minta tolong ke adik saya untuk dikirimkan sembari mengirimkan surel ke pihak Chevening mengenai kebijakan membawa dokumen asli. Alhamdulillah, mereka mengijinkan untuk membawa copy nya saja, meskipun dokumen asli tetap saya minta kirim dari rumah, just in case they need it after.
  3. Untuk pakaian, bebas namun cukup formal. Saya sendiri memakai cardigan batik dengan dalaman kaos hitam polos serta celana bahan hitam. Untuk laki-laki saya melihat ada yang memakai jas lengkap, sementara satunya hanya kemeja biru polos. Pakailah pakaian yang membuat kalian nyaman namun masih terkesan formal.

***

Ini kali pertama saya melakukan wawancara beasiswa. Jujur, saya khawatir, teramat sangat. Saya mendapatkan slot wawancara pukul 09.45. sekitar pukul Sembilan saya melakukan order Gojek, tidak berapa lama menunggu di lobby, orderan saya datang dan mengantarkan ke Kedutaan Inggris yang hanya berjarak 10-15 menit jalan kaki sebenarnya.

Sesampainya di gerbang samping, tempat lapor tamu, saya melaporkan diri pada petugas, lalu dimintalah ID saya, saya tunjukkan KTP (untuk hal ini, tunjukkan saja KTP, jangan passport), lalu tidak berapa lama saya dipanggil, saya pun masuk melalui pintu besi, lalu saya mengisi buku tamu, tas saya diperiksa, semua elektronik disita, 2 telepon genggam dan 1 powerbank. Saya lalu diberikan ID Card sebagai tamu, yang katanya nanti digunakan untuk menukar barang dan mendapatkan KTP saya kembali. Inilah alasan kenapa saya menyarankan KTP, sebab akan ditahan oleh petugas, sementara saat wawancara nanti kamu juga akan diminta menunjukkan ID (pakailah passport untuk hal ini). Saya lalu melewati scan lalu di scan kembali secara manual oleh petugas perempuan, lalu dibukakan pintu besi kedua. Diminta menunggu sebentar, sampai salah satu petugas datang dan mengantar saya menuju ruang tunggu.

Sesampainya di ruang tunggu, saya melapor ke semacam resepsionis lalu diminta duduk menunggu di sofa yang tersedia. Di sana telah ada seorang perempuan yang ternyata juga akan wawancara, tepat setelah giliran saya nanti. Singkat cerita, kami berkenalan, bercerita, dan saya diperlihatkan daftar pertanyaan yang sudah dia buat dan dipakai latihan. Daftarnya tidak cukup berbeda dari daftar yang saya punya, namun ada tambahan mengenai “Kenapa harus memilih kamu?”, “Apa kekuatan terbesarmu”, dll.

Tidak berapa lama, pintu di belakang kami terbuka, keluarlah seorang laki-laki, yang juga peserta wawancara dengan seorang perempuan, yang saya ketahui sebagai Ibu Rowena, salah satu panelis pewawancara yang juga merupakan pengurus Chevening di Indonesia. Harusnya ini sudah menjadi giliran saya, namun karena tidak dipanggil, maka saya putuskan untuk menunggu.

Sekitar 15-20 menit kemudian keluar seorang perempuan British menghampiri kami dengan nada bertanya, “Pratiwi Hamdhana?”. “That’s me” saya lalu menjabat tangannya dan bersama-sama kami melewati banyak pintu untuk menuju ruang wawancara.

Saya lalu disambut oleh 2 orang lainnya, Ibu Rowena dan Andy, dosen Warwick University, salah satu kampus yang saya daftari. Setelah penjelasan dan perkenalan singkat dari panelis, dimulailai proses wawancara yang saya duga akan menegangkan. Namun, di akhir sesi saya justru kaget, “ I thought it will be the longest 30 minutes in my life, but it went very fun” lalu kami semua tertawa.

Selama proses wawancara, kamu diperbolehkan untuk minum, mereka menyediakan segelas air dingin di hadapan kamu, jadi santai saja. Usahakan untuk menunjukkan senyum dan antusiasme ketika menjawab pertanyaan. Santai tapi jangan kelewat santai. Jaga kontak mata, tidak hanya di satu penelis, tapi juga bergantian.

Setelah selesai mereka akan memberikan kesempatan sekali untuk kamu bertanya balik, gunakan saja untuk bertanya hal yang memang ingin kamu tanyakan, jika tidak ada, tanya apa saja. Setelah itu, saya ucapkan terima kasih dengan menjabat satu per satu tangannya, dan berbicara sedikit dengan Andy untuk mengatur pertemuan. Lalu sembari menuju pintu saya ucapkan lagi, “Thank you, nice to meet you all, see ya”. Lalu bersama Ibu Rowena saya di antar keluar menuju ruang tunggu kembali yang ternyata sudah bertambah dengan 1 lelaki. Saya duduk sebentar, lalu berbincang dan berkenalan dengan si orang baru, yang ternyata juga daftar di Warwick. Kami lalu sampai di satu kesimpulan, bahwa semua yang dipanggil wawancara hari ini adalah yang memilih Warwick sebagai salah satu pilihan kampusnya, makanya salah satu panelisnya adalah dosen Warwick, yang juga datang untuk menghadiri pameran pendidikan UK. Ini juga yang mungkin menjadi alasan kenapa slot wawancara yang saya punya hanya di tanggal 10, sementara orang lain yang say abaca pengalamannya bisa memilih hari dan tempat (Jakarta atau Makassar).

Tidak berapa lama, saya lalu pamitan sebab harus check out dari hotel. Sempat ingin berfoto di depan kedutaan, namun petugas tiba-tiba menghampiri, saya pun langsung mengalihkan dengan bertanya, “kalau ke Pomelotel jalan kaki deket ga, Pak?” hihihi.

Sembari jalan menuju hotel, saya masih diliputi perasaan takjub dan bahagia karena sudah melewati proses yang cukup membuat saya insomnia sejak mendapatkan panggilan lewat surel. Bagaimana tidak, hampir setiap malam saya susah tidur karena membayangkan proses wawancara, bahkan saya sering berbicara sendiri, membayangkan sedang diwawancara.

 

Ternyata wawancara beasiswa tidak semenyeramkan yang saya duga, malah menyenangkan, apalagi panelis Chevening sangat baik dan berusaha membuat suasana semenyenangkan mungkin.

 

Oh iya, beberapa tips tambahan :

  • grammar atau pronounce memang penting, tapi buat saya yang grammar-nya masih kacau banget hal ini bisa sangat membuat stress, tapi tenang saja, selama mereka mengerti apa yang kamu sampaikan, dan selama kamu bisa menyampaikan ide yang kamu punya, saya rasa semuanya akan baik-baik saja.
  • Carilah dukungan sebanyak-banyakanya. Saya adalah tipikal orang yang senang berbagi cerita, termasuk proses beasiswa ini. Senang rasanya ketika lewat cerita yang kamu bagi, kamu jadi tahu bahwa ada juga yang sedang berada di jalur yang sama, kan bisa saling mendukung. Juga, saya memiliki prinsip bahwa dengan saya menyebar informasi mengenai apa yang tengah saya lakukan, maka akan banyak yang mendoakan, semakin banyak yang mendoakan kan semakin baik. Toh, kalaupun suatu saat ternyata tidak berjalan sesuai harapan, saya juga tidak malu untuk menceritakannya, biar jadi pengalaman dan juga bekal buat orang lain ke depannya biar tidak mengalami apa yang saya alami. Misalnya saja ketika daftar CCIP Aminef, program belajar 1 tahun, saya juga bercerita lewat sosial media dan ke orang-orang yang saya kenal, dengan harapan mereka akan mendoakan. Namun, ketika sebuah email yang menyatakan saya belum dapat diterima, saya juga bagikan ke khalayak ramai. Bagi saya, menunjukkan kegagalan atau terlihat gagal di mata orang banyak juga adalah bagian dari proses, bisa jadi dari sana akan ada yang bisa memberikan saran agar ke depannya bisa lebih baik kalau mau mendaftar lagi.

INI TIPS TAMBAHAN YANG PALING PENTING :

  • Mintalah restu dari orangtua dan keluarga. Selain orangtua kandung, saya bahkan meminta restu pada orangtua asuh di Arguni dan beberapa orang kampung yang sudhah saya anggap sangat dekat dan sudah seperti orangtua. Saya mengabari mereka (kandung dan asuh serta orang kampung) setiap hal sebelum saya melakukannya, saya sms mereka beberapa menit sebelum hp disita di kedutaan, saya minta doa restu, saya kabari begitu selesai wawancara, setiap sebelum dan memulai hal penting, saya mengabari dan meminta doa mereka.
  • Sogoklah Tuhan sebanyak-banyaknya, di antara pagi menuju siang, di antara tengah malam menuju subuh, perbanyaklah sogokan di waktu-waktu itu, terlepas di waktu-waktu wajib.

 

Satu tantangan sudah terlewati, sisa menunggu hasilnya saja. Mohon doanya ya, jika memang Chevening jalan terbaik bagi saya, semoga semuanya dimudahkan dan diberkahi, amin.

Untuk kalian yang ingin bertanya, inshaAllah akan saya coba jawab sebisa mungkin, silakan tulis pertanyaannya di kolom komentar, dan akan saya balas secepatnya.

 

Oh iya, dua hari setelah wawancara saya melaksanakan tes IELTS untuk pertama kalinya juga menghadiri pameran pendidikan UK, akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.

 

Para pemburu beasiswa di luar sana, semangat ya berburunya, kalian tidak sendirian kok 😉

 

 

Jakarta, 14 Maret 2016

Beberapa jam sebelum masa cuti habis dan kembali ke Fakfak.

 

 

 

29 Comment

  1. lies says: Reply

    Alhamdulillah…. Sukses ya Mba..

    1. Makasih, kak lies 🙂 amin

  2. Wiwit says: Reply

    WOW. Bacanya bikin deg-degan jg nih 🙂
    Sukses ya, Tiwi.. Semoga cita-citanya tercapai 🙂
    Ambil jurusan apa di Warwick?

    Salam Kenal ya dari Lampung 😉

    1. Hi, Wiwit… Hahaha degdegan ya? Saya lebih2, hahaa

      Amiin ya Allah, makasih ya atas doanya, doa yg terbaik buat kamu juga

      Saya ambil Entrepreneurship, salam kenal *jabat tangan*

  3. Ami says: Reply

    Alhamdulillah sukses ya Wii, seneng bin degdegan deh bacanya. Semoga Allah mudahkan amiin

    1. amiiin, makasih ami

  4. Deasy says: Reply

    Hi Mbak Tiwi,
    Salam kenal ya mbak, saya Deasy. Saya juga baru saja interview Chevening di British Embassy kemarin, 21 Maret 2016. Membaca tulisan Mbak, saya seperti membaca kisah sendiri…terharu saya hehehe…
    Berarti kita senasib nih, Mbak. Semoga kita berhasil ya, Mbak Tiwi…Amiiinn
    Oh ya, saya juga kebetulan memilih Warwick, tapi beda course dengan Mbak Tiwi. Sudah dapat unconditional offer dari Warwick kah, Mbak?

    1. Hi kak Deasy, kamu ada line atau wa? Kita ngobrol2 di saya yuk

      Ini line aku : pratiwihamdhana
      Wa : 0811486222

  5. […] yang sudah kalian tahu di postingan ini saya sempat cerita kalau saya ikut wawancara beasiswa Chevening, cuti beberapa waktu untuk ke […]

  6. Ina says: Reply

    halo Mbak, aku Ina, bisa bagi line sm wa nya juga gak mbak? pengen nanya2 soal chevening juga nih, rencana pengen apply jg thn ini. thanks

    1. Hi Ina, boleh di line pratiwihamdhana

      1. Ina says: Reply

        ok mbak 🙂

    2. Hi, Ina

      Boleh di line pratiwihamdhana

  7. herul says: Reply

    selamat siang mba,
    nama saya herul, dari watampone sul-sel. saya juga hendak mendaftar beasiswa chevening namun terkendala masalah esai (revisi dan masukan) apakah saya dapat dibnatu dalam hal ini mba, terima kasih.

    1. Hi, Herul

      boleh coba dikirimkan ke email saya ya

      thanks

  8. Dani Puspitasari says: Reply

    salam kenal mbak Nurul, Saya Dani dari Solo.
    Membaca sharing dari mbak sangat memberi semangat buat saya untuk mendaftar beasiswa Chevening juga. Mbak boleh ga saya contact via WA?
    terimakasih 🙂

    1. Halo Dani,

      Via email boleh di pratiwihamdhana@gmail.com

  9. Risah says: Reply

    Ya Allah, Alhamdulilah ya mba..
    Sukses ya,,, saya berharap bisa mengikuti jejak mba.
    Mohon bimbingannya ya masih belum tau harus mulai darimana. hehhe

    1. Mulai dari daftar beasiswa yuk, RIsah 😀

  10. Halo mba. terima kasih sharing nya ya. Sangat membantu sekali

    Perkenalkan nama saya Rizky. Saya juga mengajukan aplikasi untuk beasiswa chevening ini untuk tahun 2017. Terima kasih tips-tips nya

    1. Goodluck ya

  11. brian r says: Reply

    assalamualaikum mbak.
    sebelum kita apply online di website chevening apakah harus sdh daftar 3 universitas itu dulu ya mba ?
    sebelum kita daftar apakah harus sudah lulus IELTS juga ?
    trus yang 2 years work experience itu bagaimana mba ? apakah harus ada bukti tertulis atau bagaimana ? pengalaman kerja yg fulltime atau part-time ?
    maaf mba banyak nanya 😀

    nice story and thanks a lot for sharing
    best of luck 😀

    1. Hi, pada saat daftar sudah harus masukkan nama universitas dan jurusan yang ingin dituju, tapi tidak harus dapat LoA dulu dan tidak harus lulus IELTS dulu. Mengenai work experience tidak dibutuhkan bukti tertulis. Pengalaman kerja apa saja termasuk volunteering bisa dimasukkan.

      good luck ya

  12. Febri says: Reply

    Assalamualaikum kak,
    Mau tanya, kak. Saya apply chevening utk 2017, tapi terkendala kondisi sehingga mengurungkan niat utk ikut. Kira-kira saya bisa ikut lagi tahun depan tidak ya?

    1. Boleh Kok, Febri

  13. ocone says: Reply

    sangat membantu sekali informasi ini mbak,semoga diberikan kelancaran dalam studynya mbak.
    GB

    1. Hi,
      Terima kasih Ocone

  14. Yulia Haryani says: Reply

    Hai Kak Tiwi. Salam kenal. Senang bisa menemukan ka tiwi yg sedang menjalani program s2 dari chevening. Sukses buat S2 nya semoga dapat terselesaikan dengan hasil yang memuaskan. amiin Doakan ya semoga saya bisa mendapatkan beasiswa chevening 2017 amiin

    1. Hi Yulia,

      terima kasih ya sudah mampir

      juga buat doanya

      amin juga untuk kamu, semoga segera bisa menyusul ya, amin

Leave a Reply