Sekolah Di Luar Negeri Lewat Beasiswa : Jebakan Kenyamanan Yang Ngetrend ?

Saya sedang di tengah suasana super darurat (re: esai kejar tayang) ketika tiba-tiba saya mendapatkan gagasan ini.

Apakah menjadi pelajar di luar negeri lewat beasiswa adalah sebuah jebakan kenyamanan yang luar biasa nikmat?

Tulisan ini bukan tulisan yang dihasilkan berdasarkan riset mendalam atau mengambil dari beberapa referensi. Tulisan ini murni tumpahan buah pikiran ketika saya sedang menjadi seorang procrastinator sejati. Betapa tidak, ketika tulisan ini saya buat, saya hanya punya waktu 32 jam untuk mengumpulkan esai 3.500 kata yang mana baru saya kerjakan 1/3nya (1.300an kata). Bukannya menyelesaikan esai, saya justru menulis ini.

Kenapa gagasan ini muncul, sebab kurang nyaman apalagi coba hidup sebagai seorang pelajar, di negara maju, sekolah gratis/dibayarin, dapat uang jajan yang inshaaAllah berkecukupan dan masih bisa jalan-jalan plus makan-makan enak. Setidaknya untuk saya pribadi, apa yang saya lakukan saat ini sungguh di atas rata-rata tingkat kenyamanannya.

Saya mulai bekerja dan benar-benar menghasilkan uang ketika duduk di bangku kelas 3 SMP, ngebantuin ngedit video-video dokumentasi acara nikahan. Lalu SMA juga udah mulai kerja di percetakan dan jualan pin serta makanan di sekolah. Ketika kuliah pun jadi tidak begitu fokus karena sibuk ngurusin usaha Buku Tahunan (BT). Lalu, pindah ke Australia pun tetap mesti kerja demi menyambung hidup (dan jalan-jalan). Kemudian, balik ke Indonesia pun dapat penempatan ke daerah pelosok (plus uang jajan). Dan ketika sekarang saya justru di”bayar” untuk cuman “sekedar” sekolah dan belajar hal-hal yang cukup saya sukai (plus menikmati budaya lewat jalan-jalan) di negara yang cukup nyaman dan maju, WAW !

Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?

Belum lagi soal “privasi”. Seumur saya hidup di Indonesia, saya tidak pernah benar-benar punya kamar yang saya tempati sendiri. Saya pasti berbagi dengan adik-adik saya (saya punya 5 adik anyway). Lalu, ketika pindah ke Australia saya pun berbagi kamar dengan seorang kawan (biar irit soalnya kosan di Aussie super mahal). Ketika bertugas jadi Pengajar Muda pun, di Arguni (kampung penempatan saya), saya juga tidur dengan adik piara/angkat saya + anak-anak juga sering datang menginap. Ketika lagi di rumah kota (basecamp kami ketika ada di kota), saya pun berbagi kamar dengan sesama rekan Pengajar Muda. Eits, bukan berarti saya keberatan ya, hanya saja ketika sekarang di Inggris ini saya punya kamar sendiri + fasilitas lengkap dan nyaman, WAW !

Tinggal lama di luar negeri bukan hal yang baru memang buat saya (ini bukan sombong loh), hanya saja menjadi mahasiswa berbeasiswa di negara maju adalah hal yang sangat baru buat saya. Saya tak perlu khawatir untuk mencari pekerjaan demi bayar kosan (happened when I was in Aussie tho). Kasarnya sih, saya ga usah musingin ongkos hidup, cukup belajar yang bener dan sesekali menikmati hidup dengan jalan-jalan. Internet kencang, akses fasilitas memadai, udara bersih, transportasi umum oke dan berbagi kenyamanan lainnya. Saya bahkan bisa mengatur pola makan yang lebih sehat di sini.

Sekarang sudah melewati bulan ketiga saya menjalani hidup di UK sebagai pelajar berbeasiswa. Beberapa waktu lalu sempat kepikiran untuk lanjut mengambil program doktoral (4-5 tahun). Selain karena saya cukup menyukai subjek yang saya ambil sekarang, rasa-rasanya tinggal di negara maju 4-5 tahun mendatang itu sungguh menggiurkan. Untung saja, beasiswa yang saya ambil MEWAJIBKAN saya pulang ke Indonesia, kalau tidak ini akan jadi opsi yang sangat menarik. Melanjutkan kenyamana yang sudah sangat nyaman ini.

Lalu saya berpikir lagi, ketika kamu nyaman di suatu tempat, maka kamu akan takut untuk meninggalkan tempat itu. Itulah perasaan yang saat ini menghantui saya. Senyaman inikah hidup yang saya jalani sekarang di sini. Di satu sisi saya ingin pulang ke Indonesia melanjutkan ide yang tengah saya gagas. Di sisi lain, saya juga takut Indonesia tidak akan mampu memberikan saya perasaan nyaman seperti yang sekarang saya rasakan (well, not my first time sih, happened once when I back to Indonesia from Aussi, sepertinya ini memang umum terjadi kalau sudah lama tinggal di negara maju dan pulang ke kampung halaman), belum lagi segala ekspektasi tentang apa yang saya rencanakan di masa depan. Beberapa jam lalu, saya membahas ini dengan seorang kawan sesama penerima beasiswa dan saya mengutarakan kekhawatiran saya

“bagaimana kalau sesuatu/change yang ingin saya buat sebenarnya bisa aja dilakuin bahkan tanpa perlu sekolah jauh-jauh?”

Saya sendiri sebenarnya bukan “penganut” konsep out of your comfortzone. Saya justru lebih senang menyebut segala hal beresiko yang saya lakukan sebagai bagian dari expanding my comfort zone, melebarkan zona nyaman saya. Logikanya sederhana saya, ngapain keluar dari zona nyaman toh kita sudah nyaman, mendingan diperluas zona nyamanya, jadi di manapun kita atau apapun yang kita lakukan kita akan tetap merasa nyaman. Yang mana membuat saya berpikir, apakah menjadi pelajar berbeasiswa di luar negeri/negara maju membantu saya melebarkan zona nyaman saya atau justru membuat saya terlena di circle  kenyamanan yang itu-itu saja sehingga kelak selepasnya saya dari sini saya justru lupa/kesulitan untuk membuatnya lebih lebar dari sebelumnya.

 

 

Leave a Reply