Hal-hal (Kurang) Menyenangkan Tentang Menjadi Orang Dewasa

Tiga puluh dua hari dari sekarang saya harus mempersiapkan diri melepaskan usia 24 tahun dan beralih ke seperempat abad ((SEPEREMPAT ABAD)) alias 25 tahun.

Well, kata orang-orang sih dewasa itu pilihan, memang benar adanya, tapi menjadi orang dewasa itu takdir. Kita tidak bisa memutuskan untuk berhenti tumbuh secara fisik dan usia. Siap tidak siap, masyarakat akan semakin melihat kita berdasarkan usia yang kita sandang. Lulus dari kuliah dan menjadi sarjana adalah pintu gerbang dari remaja dewasa menuju orang dewasa, di mana setiap hal yang kita lakukan tidak lagi dapat dengan mudah ditolerir kesalahannya, sebab kita sudah dewasa menurut orang-orang.

Untuk mempermudah pemahaman tentang apa yang saya tulis setelah ini, mari kita membuat kesepakatan tentang orang dewasa. Dalam tulisan ini, orang dewasa yang saya maksud adalah saya (dan kalian) yang berada di rentang usia 20 tahun-an, yang mana di antaranya sudah memasuki semester akhir perkuliahan, sudah menjadi sarjana, sudah memiliki pekerjaan/pernah bekerja, lajang yang sedang merantau atau bekerja di luar kota atau pasangan muda yang sedang sama-sama berjuang (tapi untuk segmentasi yang ini, saya masih jauh dari kata berpengalaman).

Tidak sedikit artikel di internet yang menuliskan tentang betapa menyebalkannya menjadi dewasa atau quotes bernada sarkas yang menunjukkan kalau being an adult is sucks. Hal-hal yang selanjutnya akan saya tuliskan semua berdasarkan apa yang saya alami sebelumnya dan saat ini. Tulisan ini saya buat bukan sebagai bentuk tidak bersyukur atas semua hal luar biasa yang sudah saya peroleh selama menjadi orang dewasa. Tulisan ini murni hanya curhatan paparan pikiran saya kalau kadang-kadang menjadi orang dewasa itu tidak selamanya menyenangkan.

1. No more “uang jajan” from Mom and Dad
Tidak semua orang terlahir dengan fasilitas rekening yang secara otomatis terisi setiap bulannya. Untuk mereka yang rekeningnya automatically fully loaded bahkan ketika mereka sudah dianggap dewasa atau bahkan sudah bekerja, tulisan ini bukan untuk kalian.
Mulai dari tagihan kost-an/cicilan rumah, listrik-air, kebutuhan pokok, nongkrong-nongkrong cantik di café, makan-makan enak di resto, atau sekedar uang pulsa untuk internetan, semuanya sudah menjadi tanggungjawab pribadi. Berbekal pemasukan yang kadang hanya numpang lewat di rekening, menjadi orang dewasa berarti belajar untuk membedakan mana yang prioritas dan mana yang masih bisa ditangguhkan.
2. Lemari baju yang tidak lagi “otomatis”
Sebagai orang yang menganggap mesin cuci adalah salah satu temuan yang sangat mutakhir, menjadi orang dewasa sangat terbantu oleh kehadiran benda ini. Untuk mereka yang tinggal di tempat layanan laundry kiloan setara dengan satu bungkus nasi kuning murah meriah, hal ini tentu bukan masalah. Tapi bagi yang tidak, maka bersyukurlah sebab ini akan menjadi latihan awal sebelum kalian menjadi ibu yang selalu memastikan lemari pakaian anaknya tidak pernah kosong karena semua pakaian kotor selalu dicuci dan disetrika tepat pada waktunya. Damn, I hate ironing!
3. Belajar memasak atau layanan pesan-antar
Mudah saja bagi mereka yang memang sering bermain di dapur dan membantu ibunya semasa kecil/remaja, tapi bagi kalian yang membedakan garam dan gula saja harus diecap dahulu, atau yang mecahin telur di mana kulit telurnya selalu ikut jatuh ke dalam mangkok, percayalah kalian hanya punya dua pilihan, belajar memasak seadanya atau layanan pesan-antar.
4. Achievement vs Love
Because life is not a Disney world, dear. Pangeran tampan tidak akan datang hanya karena kamu bekerja keras kayak Cinderella, atau kamu tertidur lama ala Sleeping Beauty. Menjadi dewasa datang sepaket dengan semua tanggungjawab serta resiko. Mulai dari bekerja dari pagi-petang (atau lembur) hingga target-target masa depan yang seolah-olah kejar setoran dan terpaksa menyingkirkan urusan asmara dari daftar top three or top five. Bagi mereka yang high achiever, karir dan percintaan seringnya tak berjalan liniar, hufh!
5. Lesser friends and being alone most of the time
Si A menikah, si B punya anak, dan si C pindah ke kota/negara ini. Ini mungkin hal yang paling tidak menyenangkan di antara semua hal yang kurang menyenangkan di tulisan ini. Sebagai anak rantau yang juga berteman dengan sesama anak rantau, menjalani tahapan ini sungguh menyebalkan, apalagi kalau kalian dipisahkan oleh perbedaan waktu yang cukup signifikan. Mereka tidur, kamu baru bangun. Mereka bangun, kamu mau tidur.
Ada hal-hal dalam hidup yang ketika kamu menjadi orang dewasa tidak lagi bisa kamu ceritakan ke orang tua dan mencari teman cerita juga tidak lebih mudah, sebab semua orang yang kamu kenal sibuk dengan hidup dan masalahnya masing-masing. Pilihan terakhir? Just keep it by yourself, dude.
6. Your room/house is your best sanctuary

Setelah semua kegiatan bersosialisasi yang menguras energi dan dompet, kamu sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah, masuk ke kamar dan browsing hal-hal random atau binge-watching. You are not young anymore.
7. Menjadi emosional adalah kelemahan
Orang-orang di luar sana menganggap dengan seiring bertambahnya usia, maka kamu juga sudah harus matang dan kuat secara emosional. Menangis tanpa alasan atau marah-marah karena hal sepele adalah bukti ketidakdewasaan. Untuk perempuan bahkan lebih parah lagi, ketika menjadi terlalu emosional maka orang-orang hanya akan bilang “lagi PMS kali”. Ah, satu lagi mom won’t be there to comfort you, damn!.

Tapi, perlu diingat kadang hal-hal yang tidak kurang menyenangkan justru itulah yang bisa membuat kita tumbuh menjadi manusia yang lebih kuat.

Menurut kamu apalagi hal-hal (kurang) menyenangkan tentang menjadi orang dewasa?

Leave a Reply