Memaknai Cara-Cara Tuhan Memeluk Mimpi-Mimpi Kita

Entah di mana dan kapan tepatnya, saya pernah membaca bahwa Tuhan punya tiga cara dalam menjawab doa umatNya.

  1. Memberikan apa yang kita minta/inginkan saat itu juga
  2. Memberikan hal/sesuatu yang lain dan lebih baik dari yang kita harapkan
  3. Menunggu dan menunda hingga saat yang tepat

Sebagai orang yang selalu punya banyak mimpi dan meminta banyak hal sama Tuhan, beberapa tahun belakangan ini saya belajar memaknai ulang hal-hal yang terjadi dalam hidup saya. Betapa kagetnya saya ketika tahu dan ingat bahwa apa yang saya alami dan apa yang saya dapatkan sekarang adalah hal yang pernah saya minta kepada Tuhan di masa lalu.

Ada mimpi-mimpi yang diantarkan lewat doa dan dikabulkan dengan cepat olehNya, bahkan jauh lebih cepat dari tenggat waktu yang saya tawarkan pada Tuhan. Namun, tidak sedikit mimpi-mimpi yang butuh waktu lama, bertahun-tahun, hingga akhirnya tercapai, bahkan ketika terkadang saya lupa saya pernah meminta hal-hal tersebut.

Terkadang kita lupa menghitung apa yang sudah Tuhan beri dan fokus pada apa yang belum kita dapatkan.

Saya meminta untuk bisa hidup di negara 4 musim ketika saya masih di Australia yang musimnya tidak jauh beda dengan Indonesia alias ga ada salju, Tuhan lantas menghadiahi saya kesempatan kuliah di Inggris. Saya pikir kala itu Tuhan mewujudkan doa dan mimpi saya, ternyata sesampainya di sini pertama kali saya baru tahu kalau di Inggris salju pun jarang turun, bahkan untuk beberapa kota tidak pernah turun sejak bertahun-tahun lalu, sekalipun musim dingin tiba. Kecewa? sedikit. Tapi kesempatan untuk menikmati hidup 1 tahun lebih di Inggris sudah jadi berkah yang luar biasa bagi saya. Tapi, Tuhan mendengar, dan Tuhan selalu tahu kapan waktu terbaik untuk memberikan apa yang kita butuhkan. Nyatanya keajaiban itu ada. Musim dingin pertama saya tahun lalu sedikit bersalju, meski sedikit, tapi tak apa pikirku waktu itu. Lalu seminggu lalu, Tuhan akhirnya mengabulkan apa yang saya minta sejak bertahun-tahun lalu. Salju yang lebat seperti di film-film menghiasi hari-hari saya. Padahal sudah bertahun-tahun London dan bagian tengah Inggris tidak pernah lagi hujan salju lebat.

Perkara salju tersebut lalu membuat saya mengingat kembali mimpi saya untuk traveling selama 1 tahun non stop. Tidak sekali saya mencoba mengumpulkan uang untuk mewujudkan mimpi ini. Dari usaha buku tahunan bertahun-tahun lalu, hasil kerja keras di Australia selama hampir 1 tahun, tapi nyatanya kalau memang Tuhan belum mengijinkan maka sekeras apapun saya berusaha, ada kalanya saya harus lebih sabar lagi. Prioritas berubah dan banyak hal-hal yang lebih mendesak kala itu membuat saya mengalihkan dana yang sudah saya kumpulkan. Namun, seminggu belakangan ini saya berpikir, meski Tuhan belum mengambulkan mimpi saya itu, tapi toh nyatanya saya sudah jauh dari rumah hampir 4 tahun lamanya. Pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain. Hal ini membuat saya bertanya-tanya sendiri “bukankah ini sama saja dengan berkelana/traveling non stop?”. Entahlah, bisa jadi ini cara kedua Tuhan dalam menjawab mimpi saya, diberikannya saya kesempatan untuk hidup ala lokal selama beberapa tahun di beberapa tempat baru, bukan hanya sebagai pejalan/turis selama 1 tahun.

Lalu mimpi-mimpi dan doa-doa kecil yang pernah saya kirimkan kepada Tuhan pun tanpa sadar sudah terwujud. Sebagai anak pertama di keluarga yang cukup besar (6 bersaudara), saya tidak pernah punya kamar saya sendiri, sejak kecil hingga sekarang. Keluarga saya bukan keluarga yang punya privilege untuk menyediakan kamar bagi masing-masing kami. Dari sejak kecil saya meminta untuk punya kamar sendiri sama Tuhan, tapi tak pernah dikabulkan. Bahkan hingga saya pindah ke Australia pun, saya masih harus berbagi dengan orang lain karena biaya sewa kamar yang mahal. Hingga akhirnya saya berkesempatan tinggal di rumah orangtua angkat di Arguni, Papua Barat. Saya disediakan kamar sendiri, bisa bayangkan betapa senangnya saya saat itu? Meski tidak sedikit malam-malam saya harus tidur dengan anak-anak atau adik angkat saya, tapi tak apa toh ada juga malam-malam dan hari-hari yang saya sendiri menguasai kamar itu. Lalu tibalah fase hidup di Inggris sini, di mana akhirnya saya punya kamar saya sendiri. God (and my housemates) knew how much I loved to spend time in my room. Kalau kata housemates saya, “Tiwi berfotosintesis di kamar”, saking jarangnya keluar kecuali buat makan dan mandi. That’s how much I love having my own personal space, after years I had none. Butuh hampir 25 tahun hingga akhirnya saya punya kamar sendiri, butuh lebih dari 15 tahun sejak saya meminta sama Tuhan untuk punya kamar sendiri.  Butuh puluhan tahun hingga sebuah doa sederhana dikabulkan, hingga sebuah mimpi kecil terwujud.

Lalu ada mimpi-mimpi lain yang melibatkan orang lain di dalamnya. Sejak saya bisa menghasilkan uang sendiri, sejak menjalani usaha Buku Tahunan, sejak mengenal traveling dan melihat dunia, saya bermimpi untuk bisa mengajak orangtua dan keluarga saya untuk melihat dan merasakan yang saya rasa. Kami pernah melakukan perjalanan bersama, sekeluarga, berkat promo tiket murah AirAsia, tapi hanya sejauh negara tetangga atau beberapa kota di Pulau Jawa. Ingin sekali rasanya mengumrohkan orangtua, meski mereka sudah pernah Haji bertahun-tahun silam, bahkan ingin rasanya berangkat umroh bersama-sama dengan mereka dan adik-adik. Saya lantas mengumpulkan uang, mencari cara murah lewat dan informasi dari mereka-mereka yang pernah “umroh backpacker”. Lagi-lagi, semesta punya kejutan-kejutan lain, dan jadilah mimpi umroh ini mulai terlengserkan  prioritasnya. Namun, siapa sangka jika kurang dari 30 hari lagi, Bapak dan Mamak akan berangkat, menempuh perjalanan jauh, ke sini, ke Inggris, untuk menghadiri wisuda saya inshaaAllah. Tidak pernah dalam hidup saya kepikiran untuk bisa mengajak Bapak dan Mamak ke Inggris, negeri yang jauh dan asing bagi kami keluarga yang tumbuh dan besar di lingkungan Pasar Terong, pasar tradisional di Makassar. Tidak pernah saya, Tiwi, anak pasar yang tumbuh dan besar di rumah yang penuh barang jualan, dari sayur mayur, buah hingga cakar (barang-barang, mayoritas pakaian, bekas dari luar negeri), membayangkan bisa mengajak orangtua saya untuk menghadiri wisuda di tanah yang jauh dan asing ini. Memberangkatkan mereka sejauh 12.456 km jauhnya dari kampung halaman untuk menghadiri wisuda saya di negeri Ratu Elizabeth ini adalah hal yang tak pernah sekalipun kami minta. Jangankan minta, membayangkannya saja kami tak berani. Tapi, Tuhan mungkin menjawab doa saya dengan cara yang kedua. Alih-alih ke Mekkah untuk Umroh yang berjarak 9.139 km dari Makassar, Tuhan memberi kami hal lain, berkumpul di tempat yang sedikit lebih jauh. Meski, tetap saya akan selalu berupaya untuk mewujudkan mimpi umroh ini suatu hari kelak.

“Pernahki bayangkan bakalan bisaki ke Inggris, Mak?” sebuah pertanyaan yang saya lontarkan melalui telepon via Skype kala itu ke Mamak. Sedikit lama baru beliau menjawab “Nda pernah, Nak” lalu kami sama-sama terharu. Kenapa saya tahu dia juga terharu? karena kami sempat diam beberapa saat, mencoba menerima bahwa ini bukan mimpi. Bahkan sampai tulisan ini dibuat pun, saya masih sulit percaya bahwa dalam 26 hari lagi, Bapak dan Mamak akan mendarat di Heathrow. Seperti yang saya pernah bilang di beberapa postingan sebelumnya, mimpi itu punya hak untuk diperjuangkan. Meski perkara membawa Mamak dan Bapak bukanlah mimpi-mimpi lama, namun mimpi baru yang tak sengaja mengetuk dan terlintas, tapi haknya sama dengan mimpi-mimpi lama, yang patut diperjuangkan. Mulai dari kenekatan membelikan mereka tiket promo, jualan sate/martabak/bakso di Inggri, jadi tour guide, bekerja di restaurant 40-55 jam seminggu di sini, proses bikin visa yang mengharuskan mereka ke Jakarta dan berakhir mendapat  musibah yang tidak pernah disangka bisa menimpa mereka dan kami sekeluarga, tapi toh akhirnya semua itu menunjukkan hasil. Proses visa yang granted kurang dari 1 minggu, padahal jalur normal, jualan PO yang lumayan laku demi nambah-nambah duit buat jalan-jalan bareng mereka nanti, privilege dapat makan di tempat kerja dan bisa bawa pulang yang bikin pengeluaran jadi minim banget dan duitnya bisa dipakai buat keperluan akomodasi dan transportasi buat jalan-jalan bareng nanti, dan jam kerja yang makin menggila tapi bisa nambah-nambah penghasilan. Tuhan selalu punya cara terbaik untuk memberikan apa yang kita butuhkan, alih-alih apa yang kita inginkan, terkadang.

Buat kalian yang punya mimpi-mimpi dan sudah berdoa kepada Tuhan, coba diingat-ingat lagi, mungkin Tuhan sudah pernah mengabulkan dan menjawab doa kalian, dengan cara yang berbeda dan tak pernah kalian sadari. Bagi ya belum, dan tentu saja saya juga masih punya banyak sekali mimpi dan doa-doa, mari belajar untuk lebih bersabar lagi. Tuhan selalu tahu kapan waktu yang terbaik untuk doa-doa dan mimpi-mimpi kita menjadi nyata.

 

 

4 Comment

  1. edacitra says: Reply

    Peluk juga ah…..

  2. Nurul Irsal Amalia says: Reply

    I was crying while I’m reading this.

  3. Vira says: Reply

    Hangat sekali ceritanya

  4. I think, to read your blog in the middle of the day is one of His answer for me who starting to doubt everything about pursuing my dreams. Thank you very much for shared such a delightful stories, it recharges my spirit again. Bless you!

    Regards,
    Heny

Leave a Reply